Jenjang Metafisika, Belajar tentang Kehidupan dan Peradaban

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat belajar tentang kehidupan dan peradaban manusia, ada satu masa yang legendaris. Masa di mana pemikiran manusia masih terbelenggu oleh konsep filosofis yang abstrak dan universal adalah jenjang metafisika.
Dikutip dari Paradigma Ilmu dalam Membangun Peradaban, Universitas Muhammadiyah Surakarta, dalam situs pai.ums.ac.id, peradaban sendiri merupakan suatu sistem tatanan yang diciptakan oleh manusia dengan potensi kemanusiaan.
Peradaban adalah hasil dari kompleksitas interaksi antara manusia, lingkungan, nilai-nilai budaya, dan zaman yang membentuk pola kehidupan sebuah masyarakat. Konsep peradaban tidaklah statis. Peradaban senantiasa berubah.
Jenjang Metafisika, Belajar tentang Kehidupan dan Peradaban
Jenjang metafisika dijelaskan oleh ilmuwan Auguste Comte. Mengutip dari Masyarakat Menurut Auguste Comte, oleh Yustinus Suhardi Ruman, 2021, dalam situs binus.ac.id, Auguste Comte adalah ilmuwan yang menjelaskan tentang gejala di masyarakat.
Masa di mana pemikiran manusia masih terbelenggu oleh konsep filosofis yang abstrak dan universal adalah jenjang metafisika ini. Menurut Auguste Comte, jenjang ini berada di tahap kedua dalam perkembangan masyarakat.
Mengutip dari Masyarakat Menurut Auguste Comte, oleh Yustinus Suhardi Ruman, 06 Juli 2021, dalam situs binus.ac.id, selama abad-abad terakhir era feodal di Eropa, pendekatan teologis masyarakat secara bertahap memberi jalan kepada tahap metafisik.
Dalam tahap ini, kekuatan abstrak (seperti sifat manusia) dianggap memberikan karakter dasar pada masyarakat. Tahap metafisik, terang Comte merupakan tahap transisi dari masyarakat teologis ke positif.
Tahap ini ditandai oleh kepercayaan pada hukum-hukum alam yang dapat ditemukan oleh akal budi.
Dikutip dari Tahap Perkembangan Masyarakat Menurut Auguste Comte, 26 September 2023, dalam situs an-nur.ac.id, masyarakat tahap ini mulai meninggalkan kepercayaan terhadap dewa.
Di tahap ini masyarakat beralih ke konsep-konsep metafisik seperti esensi, hakikat, tujuan, dan lain-lain. Comte tidak membagi tahap metafisik menjadi sub-tahap, tetapi ia menyebutkan beberapa contoh dari pemikiran metafisik, yaitu:
Filsafat Yunani: Para filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, Socrates, dan lain-lain mencoba menjelaskan tentang asal-usul alam dan manusia dengan menggunakan konsep-konsep seperti ide-ide, bentuk-bentuk, substansi-substansi, dan sebagainya.
Filsafat Skolastik: Para filsuf Kristen seperti Thomas Aquinas, Anselmus, dan Agustinus, mencoba menyelaraskan ajaran agama dengan akal budi dengan menggunakan konsep-konsep seperti hukum alam, hukum ilahi, telos, dan sebagainya.
Filsafat Modern: Para filsuf modern seperti Descartes, Kant, dan Hegel, mencoba menjelaskan tentang sifat dan batas-batas pengetahuan manusia dengan menggunakan konsep-konsep seperti rasionalisme, empirisme, idealisme, dan sebagainya.
Demikianlah penjelasan tentang jenjang metafisika. Jenjang tersebut didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat mengalami kemajuan seiring dengan perkembangan pengetahuan mereka. (IF)
Baca juga: Mengapa Terjadi Perubahan Sosial dalam Kehidupan Masyarakat? Ini Faktanya
