Kenapa Korea Utara dan Korea Selatan Bermusuhan? Inilah Awal Konfliknya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa Korea Utara dan Korea Selatan bermusuhan? Pertanyaan ini sering muncul ketika membahas dinamika politik di kawasan Asia Timur.
Permusuhan antara kedua negara ini berakar dari sejarah panjang yang kompleks, dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Kenapa Korea Utara dan Korea Selatan Bermusuhan?
Kenapa Korea Utara dan Korea Selatan bermusuhan? Dikutip dari situs koreaexpose.com permusuhan antara Korea Utara dan Korea Selatan berakar pada peristiwa sejarah yang terjadi pasca perang Dunia II.
Ketika Jepang menyerah pada tahun 1945, Semenanjung Korea yang sebelumnya berada di bawah penjajahan Jepang, dibagi oleh dua kekuatan besar dunia saat itu Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Pembagian ini dilakukan di sepanjang garis lintang ke-38, yang kini menjadi perbatasan de facto antara kedua negara. Pada mulanya, wilayah utara dikelola oleh Uni Soviet dan wilayah selatan oleh Amerika Serikat, sebagai bagian dari sistem perwalian sementara.
Namun, situasi tersebut berubah drastis pada tahun 1948 ketika masing-masing wilayah membentuk pemerintahan terpisah. Di Seoul terbentuk Republik Korea (Korea Selatan), sementara di Pyongyang lahir Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara).
Perbedaan ideologi yang tajam komunisme di utara dan demokrasi di selatan memicu ketegangan yang kemudian meledak dalam Perang Korea pada tahun 1950.
Perang ini berlangsung selama tiga tahun dan menimbulkan kehancuran besar di kedua belah pihak.
Korea Selatan, bersama dengan Amerika Serikat dan dukungan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, menuduh Korea Utara sebagai pihak yang memulai konflik tersebut dengan serangan mendadak.
Sebaliknya, Korea Utara membantah tuduhan itu dan justru menuding Korea Selatan sebagai pihak yang terlebih dahulu menyerang.
Meskipun perang berakhir pada tahun 1953, hanya sebuah perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani bukan perjanjian damai. Artinya, secara hukum kedua negara masih dalam kondisi perang hingga saat ini.
Sejak gencatan senjata itu, hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan tetap tegang, ditandai dengan berbagai insiden militer kecil dan hampir tidak adanya interaksi antara warga sipil dari kedua negara.
Meski begitu, upaya untuk meredakan ketegangan sempat dilakukan. Pada awal 1980-an, muncul inisiatif rekonsiliasi seperti reuni keluarga yang dipisahkan oleh perang dan kolaborasi dalam ajang olahraga internasional.
Contohnya, pada tahun 1991, kedua negara membentuk tim gabungan dalam Kejuaraan Dunia Tenis Meja dan berhasil meraih medali emas. Pada tahun yang sama, juga menandatangani perjanjian tentang rekonsiliasi dan non-agresi.
Kenapa Korea Utara dan Korea Selatan bermusuhan ternyata bukan sekadar persoalan politik saat ini, melainkan akibat sejarah panjang yang penuh konflik dan perbedaan ideologi sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Meski beberapa upaya perdamaian telah dilakukan, luka masa lalu dan ketidakpercayaan mendalam masih menjadi penghalang utama rekonsiliasi. (shr)
Baca juga: 5 Sekutu Korea Utara yang Masih Bertahan di Tengah Ketegangan Global
