Kisah Bilal Bin Rabah, Tokoh yang Dianggap sebagai Muazin Pertama dalam Sejarah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bilal bin Rabah r.a. adalah sahabat Nabi Muhammad saw yang terkenal dalam sejarah Islam karena suara merdunya. Kisah Bilal bin Rabah pun menjadi inspirasi umat Muslim dalam mempertahankan perjuangan dan keimanannya.
Dikutip dari kemenag.go.id, ia adalah muazin pertama dalam Islam, yaitu orang yang pertama kali mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan untuk mendirikan salat.
Kisah Bilal Bin Rabah, Tokoh yang Dianggap sebagai Muazin Pertama dalam Sejarah
Kisah Bilal Bin Rabah yang paling membekas di benak umat Muslim adalah perannya mengumandangkan adzan pertama kali. Bilal lahir di Makkah dari seorang budak berkulit hitam yang berasal dari Habsyi (Ethiopia).
Sejak masa kecil, ia hidup sebagai budak milik Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh dari bangsa Quraisy yang menentang dakwah Nabi Muhammad saw.
Pada saat Islam mulai menyebar luas, Bilal termasuk golongan pertama yang memeluk Islam. Namun, ia harus menghadapi penyiksaan yang sangat kejam dari tuannya.
Umayyah menyiksa Bilal dengan kejam supaya ia mau meninggalkan Islam. Tubuhnya dijemur di padang pasir, dipukul, sampai ditindih batu besar.
Namun, meskipun diperlakukan begitu, Bilal tetap teguh dan hanya mengucapkan kalimat “Ahad, Ahad” (Allah Maha Esa), dan menunjukkan keyakinannya pada keesaan Allah.
Keteguhannya tersebut membuat kagum banyak sahabat, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq. Akhirnya, sahabat Abu Bakar membebaskan Bilal dari perbudakan.
Setelah bebas, Bilal menjadi pengikut setia Rasulullah saw dan aktif berkontribusi dalam perjuangan Islam. Ketika Nabi Muhammad saw memutuskan bahwa umat Islam membutuhkan panggilan untuk salat.
Bilal pun ditunjuk sebagai muazin pertama karena suaranya yang merdu dan kuat. Ia kemudian mengumandangkan adzan pertama dalam sejarah Islam, di Madinah. Ia pun terus melakukannya selama masa hidup Rasulullah saw.
Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, ia merasa sangat kehilangan. Kemudian ia berhenti mengumandangkan adzan karena tidak sanggup menahan tangis ketika menyebut nama Rasulullah.
Dalam sebuah kisah diriwayatkan, ketika ia diminta mengumandangkan adzan kembali di Madinah, seluruh isi kota menangis karena rindu akan suara adzan Bilal. Hal ini mengingatkan mereka pada masa-masa bersama Rasulullah.
Kisah Bilal bin Rabah mencerminkan keteguhan iman, keberanian, dan kesetiaan kepada agama Islam. Kisahnya menyiratkan tentang pentingnya keberanian dalam menghadapi ujian, sekaligus keutamaan adzan sebagai panggilan suci menghadap Allah Swt. (Win)
Baca Juga: Kisah Sahabat Nabi yang Berbakti kepada Orang Tua
