Kisah Wafatnya Nabi Muhammad Singkat dan Keteladanannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan utusan Allah yang membawa ajaran Islam untuk seluruh umat manusia di dunia. Kisah wafatnya Nabi Muhammad adalah momen sejarah yang penuh duka bagi umat Islam.
Setiap tutur kata dan perbuatan Nabi Muhammad saw. mengandung banyak pelajaran hidup. Akhlaknya adalah keteladanan yang dapat dijadikan pedoman bagi umat manusia.
Kisah Wafatnya Nabi Muhammad Singkat dan Keteladanannya
Dikutip dari uinponorogo.ac.id, kisah wafatnya Nabi Muhammad terjadi pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, bertepatan tanggal 8 Juni 632 Masehi di Kota Madinah.
Sebelumnya, Rasulullah saw. memang mengalami sakit selama beberapa hari. Beliau menderita demam tinggi dan dalam kondisi lemah.
Kondisi ini menyebabkan beliau tidak dapat memimpin shalat secara langsung. Saat itu, Nabi saw. menunjuk sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memimpin shalat menjadi imam menggantikan beliau.
Di masa-masa akhir hidupnya, Nabi Muhammad saw. masih sempat memberikan khutbah terakhirnya. Di kemudian hari, peristiwa ini dikenal sebagai Khutbah Wada’, yaitu pada saat Haji Perpisahan.
Di dalam khutbah Wada’, beliau menekankan pentingnya persaudaraan, keadilan, dan menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup. Inilah warisan paling berharga bagi umat Islam seterusnya sampai hari ini.
Saat ajal menghampirinya, Nabi Muhammad berada di rumah istrinya, Aisyah r.a. Dengan kepala beliau yang berada di pangkuan Aisyah, beliau menghembuskan napas terakhirnya setelah mengucapkan lafadz berikut:
“Bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan pertemukan aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi.” Ucapan terakhir beliau adalah, “Ar-Rafiq al-A‘la” (Kekasih Tertinggi).
Peristiwa duka wafatnya Rasulullah saw. pun mengejutkan banyak sahabat. Bahkan, Umar bin Khattab sempat tidak percaya dan menyangka bahwa Nabi hanya pingsan.
Namun, sahabat Abu Bakar pun menenangkan para sahabat dengan mengatakan, “Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Namun barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati.”
Keteladanan akhlak Nabi Muhammad tercermin dalam tindakannya yang mulia. Beliau adalah sosok yang jujur, penyayang, adil, sederhana, sabar, dan selalu memaafkan.
Bahkan ketika menjelang wafat pun, beliau masih mengingat umatnya dan mengatakan, “Ummati… ummati” (Umatku… umatku).
Kisah wafatnya Nabi Muhammad sangat menyentuh hati dan menjadi momen duka paling besar dalam sejarah Islam. Keteladanan, ajaran hidup, sikap, dan cinta kasihnya terus diwariskan kepada seluruh umat Islam. (Win)
Baca Juga: Kisah Kaum Nabi Luth, Azab yang Menjadi Peringatan
