Konsolidasi dalam Sosiologi: Ciri, Efek, dan Contohnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian orang, pengertian dari konsolidasi mungkin masih terdengar asing. Konsolidasi sendiri memiliki beberapa definsi tergantung bidangnya masing-masing.
Untuk mengetahui tentang konsolidasi dalam sosiologi dengan jelas, simak ulasan tentang pengertian, ciri, efek, dan contohnya pada artikel ini.
Pengertian Konsolidasi Dalam Sosiologi dan Cirinya
Kun Maryati dalam bukunya yang berjudul Sosiologi menyebutkan, konsolidasi berarti penguatan atau pengkuhan.
Secara politis, konsolidasi adalah sebuah usaha untuk menata kembali atau memperkuat suatu himpunan atau organisasi yang terancam pecah.
Konsolidasi sendiri memiliki dua sisi, yakni sisi ke dalam dan ke luar. Sisi ke dalam akan memperkuat solidaritas ke dalam suatu organiasi atau himpunan.
Sementara konsolidasi dengan sisi ke luar dapat menumbuhkan sikap antipati dan kecurigaan terhadap organisasi lain. Hal ini dapat dimengerti karena kekuaran dan identitas suatu kelompok dapat menjadi ancaman bagi kelompok lain.
Konsolidasi mempunyai sejumlah ciri, di antaranya:
Terjadi peleburan atau penggabungan beberapa perusahaan guna membentuk perusahaan baru
Runtuhnya perusahaan lama
Perusahaan dari peleburan akan memiliki status hukum baru
Rancangan konsolidasi harus memiliki izin RSUP
Aktiva dan pasiva akan beralih ke perusahaan baru
Konsep akta konsolidasi yang disejutuin RUPS akan dibuat di depan notaris
Perusahaan berstatus badan hukum
Efek dan Contoh Konsolidasi
Jika sebuah perusahaan memutuskan untuk konsolidasi, maka akan ada beberapa efek yang ditimbulkan, baik positif maupun negatif. Efek positif yang ditimbulkan adalah kualitas perusahaan meningkat dan jauh lebih berkembang. Selain itu, keuntungan yang didapat jauh lebih besar.
Sementara untuk efek negatif, perusahaan yang melakukan konsolidasi tidak memiliki status hukum karena telah bergabung dengan status hukum baru.
Belum lagi, untuk memperkenalkan sebuah perusahaan baru, dibutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa dikenal masyarakat.
Lalu, seperti apa contoh konsolidasi perusahaan di kehidupan nyata?
Bank Mandiri: Hasil konsolidasi dari 4 bank, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, Bank Bumi Daya, dan Bank Pembangunan Indonesia.
Indonesia Professional Reinsurer: Hasil konsolidasi dari PT Reasuransi Internasional Indonesia, PT Reasuransi Nasional Indonesia, PT Maskapai Reasuransi Indonesia, dan PT Tugu Reasuransi Indonesia.
Smartfren: Hasil konsolidasi dari PT Mobile-8 Telecom, Tbk dan PT Smart Telecom.
Demikian pengertian konsolidasi, ciri, efek, dan contohnya. (raf)
