Kronologi Peristiwa Perang Paregreg dalam Sejarah Keruntuhan Majapahit

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kronologi peristiwa Perang Paregreg bermula dari konflik internal dalam Kerajaan Majapahit yang terjadi pada akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15.
Perseteruan tersebut tidak hanya melemahkan kekuatan kerajaan secara militer, tetapi juga mempercepat proses kemunduran Majapahit sebagai kekuatan besar di Nusantara.
Kronologi Peristiwa Perang Paregreg
Kronologi peristiwa Perang Paregreg mengungkap awal mula pecahnya konflik besar dalam tubuh Kerajaan Majapahit yang dipicu oleh perebutan kekuasaan.
Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara yang berdiri pada tahun 1293 Masehi dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk bersama Mahapatih Gajah Mada.
Kerajaan ini didirikan oleh Raden Wijaya, yang memerintah dari tahun 1293 hingga 1309 M. Sejak awal berdirinya, Majapahit telah mengalami berbagai pemberontakan dari dalam, yang dilakukan oleh pejabat-pejabat kerajaan sendiri.
Pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi pada masa-masa pemerintahan penerusnya, termasuk Raja Jayanegara yang akhirnya terbunuh oleh Tabib Tanca, dan Ratu Tribhuwana Tunggadewi yang memadamkan pemberontakan Sadeng dan Keta.
Pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi berakhir pada tahun 1350 M, dan digantikan oleh Rajasanagara atau Hayam Wuruk. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk, Majapahit mencapai masa keemasannya.
Namun, kemakmuran ini mulai surut setelah kematian Hayam Wuruk pada tahun 1389.
Menurut Kitab Pararaton, takhta Majapahit kemudian dipegang oleh Kusumawardhani bersama suaminya, Wikramawardhana.
Meskipun demikian, Wikramawardhana bukanlah putra kandung Hayam Wuruk, melainkan menantu yang menikahi putri mahkota, Kusumawardhani.
Sementara itu, Hayam Wuruk juga memiliki seorang putra dari selir, yakni Bhre Wirabhumi, yang merasa memiliki hak atas takhta.
Dikutip dari jurnal Perang Paregreg Pada Masa Pemerintahan Wikramawardhana Terhadap Poleksosbud dan Hankam Kerajaan Majapahit oleh Noviandi, dkk., peristiwa Perang Paregreg bermula dari ketegangan antara dua kekuatan besar di dalam Majapahit.
Pihak Barat yang dipimpin oleh Wikramawardhana dan pihak Timur yang dipimpin oleh Bhre Wirabhumi. Perpecahan ini terjadi karena tidak adanya pewaris tunggal yang sah, sehingga masing-masing pihak mengklaim hak atas kekuasaan.
Perang ini kemudian dikenal sebagai Perang Paregreg, yang berlangsung antara tahun 1404 hingga 1406 M.
Pada awalnya, kedua belah pihak mencoba mempertahankan kedamaian, tetapi ketegangan politik, perebutan wilayah, dan kecemburuan dalam kekuasaan membuat konflik tidak terhindarkan.
Perang pun pecah, melibatkan kekuatan besar dari masing-masing wilayah, serta menyebabkan kerugian besar baik secara militer maupun ekonomi.
Setelah berlangsung selama dua tahun, perang akhirnya dimenangkan oleh Wikramawardhana. Bhre Wirabhumi tertangkap dan dibunuh, menandai berakhirnya perang tersebut.
Meskipun Wikramawardhana berhasil mengalahkan saingannya, Perang Paregreg meninggalkan dampak besar bagi Majapahit.
Konflik ini melemahkan stabilitas internal kerajaan, menghancurkan ekonomi, dan mempercepat proses disintegrasi politik.
Otoritas pusat menjadi semakin lemah, wilayah kekuasaan mulai melepaskan diri, dan Majapahit kehilangan kekuatan maritim serta pengaruh politiknya di Nusantara.
Perang ini menjadi titik balik yang menandai awal dari kemunduran dan keruntuhan Kerajaan Majapahit secara perlahan hingga akhirnya runtuh sepenuhnya pada tahun 1478 M.
Kronologi peristiwa Perang Paregreg bukan sekadar konflik dinasti, melainkan salah satu penyebab utama hancurnya kerajaan terbesar yang pernah berdiri di bumi Nusantara. (shr)
Baca juga: Mitos Air Terjun Putuk Truno, Saksi Bisu Kisah Cinta Era Majapahit
