Konten dari Pengguna

Marga di Palembang yang Masih Ada sampai Sekarang

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi marga di Palembang. Foto: Pixabay.com/christopher1710
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi marga di Palembang. Foto: Pixabay.com/christopher1710

Marga di Palembang merupakan bagian dari struktur sosial dan pemerintahan adat yang pernah menjadi sistem resmi di wilayah Sumatera Selatan.

Setiap marga memiliki identitas budaya, wilayah teritorial, dan struktur pemerintahan tersendiri yang diakui secara sah pada masa Kesultanan hingga era kolonial.

Struktur marga ini akhirnya dihapuskan secara administratif pada awal 1980-an seiring modernisasi sistem pemerintahan desa.

Marga di Palembang

Ilustrasi marga di Palembang. Foto: Pixabay.com/lutv22

Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, marga di Palembang dulunya terdiri atas komunitas adat yang terikat secara genealogis dan menjalankan hukum adat secara mandiri.

Salah satu marga yang masih dikenal adalah Marga Talang Betutu yang berada di wilayah Palembang bagian timur, dan memiliki sejarah panjang sejak masa Kesultanan.

Wilayah ini dulunya dikepalai oleh pesirah dan dikelilingi oleh dusun-dusun kecil yang dipimpin kerio.

Masyarakat Talang Betutu dikenal sebagai penjaga adat dan pewaris struktur pemerintahan tradisional yang berpadu dengan pengaruh Islam melalui posisi penghulu dan khatib di dalam sistem marganya.

Marga Sungsang merupakan salah satu marga yang memiliki posisi strategis karena berada di wilayah pesisir dan menjadi jalur perdagangan penting pada masa lalu.

Letaknya yang dekat dengan muara Sungai Musi menjadikan wilayah ini tumbuh sebagai pemukiman nelayan dan pedagang yang taat terhadap struktur adat.

Dalam praktiknya, Marga Sungsang memiliki sistem keamanan tersendiri yang dijalankan oleh kemit marga dan kemit dusun untuk menjaga stabilitas wilayah dari gangguan luar.

Wilayah ini juga memiliki kekayaan budaya maritim yang terus diwariskan turun-temurun hingga sekarang.

Marga Rantau Bayur dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki jaringan dusun luas dan berperan dalam menjaga keseimbangan sosial di dataran rendah.

Wilayah ini termasuk dalam Kabupaten Banyuasin dan memiliki hubungan genealogis yang kuat dengan wilayah marga lain di sekitarnya.

Sistem adat yang berlaku di Marga Rantau Bayur tetap berpegang pada tradisi Simbur Cahaya yang menjadi acuan hukum lokal sejak masa Kesultanan.

Struktur sosial di wilayah ini mencerminkan keteraturan hidup yang diatur berdasarkan nilai-nilai adat dan sistem pengawasan dari dewan marga.

Marga Kumbang merupakan salah satu marga yang berada di antara jalur penghubung Palembang dan kawasan pedalaman. Marga ini memiliki sejarah panjang dalam menjaga wilayah hutan dan ladang dari ancaman penguasaan luar.

Kegiatan pertanian dan hasil bumi menjadi kekuatan ekonomi utama dari masyarakat Kumbang yang tetap setia pada pola hidup komunal.

Meski sistem marganya telah dihapuskan, jejak administratif dan pengaruh budaya dari sistem lama masih terasa dalam pengelolaan desa modern di bekas wilayah marga tersebut.

Marga Upang memiliki lokasi strategis di tepian Sungai Musi dan dikenal sebagai pusat distribusi hasil bumi dan perikanan.

Wilayah ini dulunya merupakan salah satu marga yang aktif dalam perdagangan hasil laut serta dikenal akan peran pentingnya dalam konsolidasi kekuatan politik lokal.

Kehadiran tokoh pesirah yang disegani menjadikan Marga Upang sebagai salah satu wilayah yang berpengaruh di masa kolonial.

Meskipun struktur resminya telah dilebur menjadi desa, pengaruh adat dan ikatan keturunan dalam komunitas bekas marga ini tetap kuat hingga masa kini.

Sistem marga di Palembang memang telah dihapuskan secara formal, tetapi jejak sejarah dan nilai budayanya masih melekat dalam kehidupan masyarakat.

Pelestarian identitas marga yang ada di Sumatera Selatan, khususnya Palembang menjadi kunci penting dalam menjaga warisan sejarah dan adat yang membentuk karakter masyarakat lokal. (Khoirul)

Baca Juga: Marga Batak Paling Tinggi yang Dianggap Bangsawan