Konten dari Pengguna

Mengenal Latar Belakang Puputan Margarana dan Tokoh-tokohnya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Latar Belakang Puputan Margarana. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Latar Belakang Puputan Margarana. Sumber: Unsplash

Membahas latar belakang puputan Margarana dan tokohnya menjadi hal menarik dalam mengenal sejarah. Dikutip dari buku IPS Terpadu, Puputan Margarana berdampak pada gugurnya seluruh pasukan I Gusti Ngurah Rai.

Lantas, bagaimana latar belakang Puputan Margarana beserta tokohnya?

Latar Belakang Puputan Margarana dan Tokohnya

Ilustrasi Latar Belakang Puputan Margarana. Sumber: Unsplash

Latar belakang Puputan Margarana berawal dari isi Perjanjian Linggarjati yang mengatakan bahwa wilayah Indonesia hanya meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura sjaa. Maka tak heran jika wilayah yang lain menjadi sasaran Belanda. Salah satunya adalah Bali.

Belanda harus pergi dari Sumatera, Jawa, dan Madura sejak tanggal 1 Januari 1946. Dampaknya, sekitar 2000 orang Belanda memasuki Bali.

Salah satu tokoh dalam Puputan Margarana adalah I Gusti Ngurah Rai yang merupakan komandan resimen Sunda Kecil atau Bali. Tapi saat Belanda menginjakkan kaki di Bali, Beliau sedang di Yogyakarta.

I Gusti Ngurah Rai yang mengetahui Belanda mulai memasuki Bali dengan segera membentuk pasukan bernama Ciung Wanara yang sebagian besarnya adalah pemuda. Ciung Wanara ditugaskan untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Taliban, Bali.

Hingga pada 8 November 1946, pelucutan senjata tersebut berhasil dilaksanakan. Seluruh senjata diberikan pada pasukan I Gusti Ngurah Rai. Pihak Belanda pun marah mengetahui operasi tersebut.

Pihak Belanda tentu tak tinggal diam. Mereka memerintahkan pasukan yang berada di sekitar Tabanan untuk berpusat di Tabanan. Karena hal tersebut, I Gusti Ngurah Rai segera kembali ke Desa Marga, Bali.

Pada 20 November 1946, Belanda mengurung Desa Marga serta memburu pasukan I Gusti Ngurah Rai yang ada di dalamnya. Meski demikian, Ciung Wanara tidak menyerah, melainkan melakukan perlawanan.

Bahkan, Ciung Wanara sempat berhasil memukul mundur Belanda. Sayangnya, pertempuran tidak usai begitu saja. Pasalnya, bantuan pihak Belanda datang terus menerus dalam jumlah besar dengan membawa senjata modern dan pesawat tempur.

Pada akhirnya, pasukan Ciung Wanara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai mulai terdesak dan mundur ke area ladang jagung serta persawahan.

Itu dia sekilas mengenai latar belakang Puputan Margarana dan tokohnya. (LAU)