Mengenal Sejarah Rebo Wekasan, Rabu Terakhir dalam Bulan Safar

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rebo Wekasan adalah tradisi yang dijalankan turun temurun oleh masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di daerah Jawa dan Madura. Tradisi ini memiliki akar budaya dan kepercayaan yang kuat, sekaligus sejarah Rebo Wekasan yang melatarbelakanginya.
Dikutip dari baznas.go.id, Rebo Wekasan adalah tradisi doa tolak bala yang dilaksanakan di hari Rabu terakhir bulan Safar dalam kalender Hijriah.
Asal Usul dan Sejarah Rebo Wekasan
Secara historis, sejarah Rebo Wekasan berasal dari kata “Rebo” yang artinya Rabu dan “Wekasan” yang artinya terakhir.
Tradisi ini dipercaya sudah ada sejak zaman Walisongo, yang menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan agama Islam di tanah Nusantara.
Menurut kepercayaan dan tradisi lokal, bulan Safar sering dianggap sebagai bulan yang penuh dengan musibah atau bala, terutama pada hari Rabu terakhirnya.
Keyakinan ini diperkuat oleh adanya cerita-cerita lisan dan kepercayaan masyarakat yang meyakini bahwa di hari Rabu terakhir Safar, Allah menurunkan berbagai macam penyakit dan bencana ke bumi.
Oleh sebab itu, umat Islam yang mempercayai hal ini akan memperbanyak doa, salat hajat, sedekah, dan membaca surat Yasin tiga kali untuk memohon perlindungan dari musibah.
Di berbagai daerah, tradisi Rebo Wekasan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Contohnya di Banyuwangi, masyarakat mengadakan ritual mandi di laut atau sungai yang disebut “Ritual Tolak Bala”.
Sementara di Madura, Jawa Tengah, dan Yogyakarta, banyak masyarakat yang melakukan pengajian, membaca doa bersama, hingga pembagian makanan atau tumpeng.
Meskipun tidak ada dalil syar’i yang secara langsung mengatur dan mewajibkan Rebo Wekasan, sebagian ulama memperbolehkan praktik ini.
Tentunya selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, dan niatnya hanya untuk berdoa kepada Allah serta memohon keselamatan.
Tradisi ini memiliki nilai sosial dan spiritual yang tinggi. Selain mempererat tali silaturahmi antarwarga, tradisi ini juga menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran spiritual.
Selain itu, momen ini juga menumbuhkan rasa syukur dan introspeksi diri terhadap cobaan hidup.
Meskipun praktiknya berbeda di setiap daerah, sejarah Rebo Wekasan dan eksistensinya tetap menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Islam Nusantara. Terutama menggabungkan nilai agama dan tradisi lokal yang harmonis. (Zen)
Baca Juga: Tradisi Rebo Wekasan di Gresik yang Sarat dengan Berbagai Amalan
