Mengenal Tradisi Wahyu Kliyu yang Digelar Setiap Bulan Suro

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Jatipuro, Karanganyar memiliki sebuah tradisi unik yang dilaksanakan secara turun-temurun hingga kini, yaitu tradisi Wahyu Kliyu.
Dikutip dari buku Makna Filosofi Tradisi Bedudukan, Ana Farida, (2029:31), dijelaskan bahwa tradisi merupakan roh sebuah kebudayaan.
Tanpa adanya tradisi, tidak mungkin suatu kebudayaan akan hidup dan langgeng. Jadi hubungan antara tradisi dan kebudayaan sangat berkaitan erat.
Sejarah Singkat Tradisi Wahyu Kliyu
Sebagai wujud syukur atas nikmat dan keselamatan yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta, masyarakat Dusun Kendal, Desa Jatipuro, kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, mengadakan tradisi Wahyu Kliyu setiap tanggal 15 Suro.
Dikutip dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, dijelaskan bahwa kata Wahyu Kliyu berasal dari Bahasa Arab yaitu Ya Hayyu Ya Qayyum yang bermakna wahai yang Maha hidup dan yang Maha Berdiri Sendiri.
Dinamakan demikian karena tradisi ini menjadi ikhtiar masyarakat untuk mohon kekuatan dan mohon kehidupan kepada Allah Swt. Sementara itu, ada pula yang mengartikan bahwa Wahyu Kliyu berarti wahyu kehidupan.
Awal mula dilaksanakan tradisi Wahyu Kliyu karena sekitar tahun 1844, di masa kolonial Belanda, masyarakat Dusun Kendal mengalami paceklik yang membuat mereka akhirnya tidak melaksanakan kondangan (kenduri) apem setelah masa panen.
Meski awalnya tidak terjadi apapun, namun memasuki hari ketujuh, terjadilah keanehan berupa terdapat banyak warga di dusun tersebut yang secara tiba-tiba terserang penyakit mengerikan.
Bahkan Ki Rengga Wijaya, kepala dusun saat itu terus mendapat laporan bahwa warganya mengalami kondisi “esuk lara sore mati, sore lara esuk mati” yang artinya pagi sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal.
Masyarakat Kendal akhirnya menyebut peristiwa mengerikan ini dengan istilah pagebluk.
Merasa risau dengan kondisi yang terjadi, Ki Rengga Wijaya mengajak serta masyarakat sekitar untuk doa bersama di rumahnya. Namun, kejadian tidak terduga terjadi lagi, Dusun Kendal diguncang gempa hebat yang sampai membuat tanah retak cukup dalam.
Karena penasaran dengan kedalaman retakan tersebut, Ki Rengga bersama warga sekitar mencoba mengukurnya menggunakan bambu. Mengejutkannya, di bagian ujung bambu terdapat uang logam yang bertuliskan angka 344.
Bingung dengan kejadian-kejadian aneh yang dialami warga Kendal, akhirnya Ki Rengga mengutus orang kepercayaannya untuk menghadap ke Keraton Solo bersama Nyai Randha Menang.
Setelah menceritakan kejadian di Kendal, utusan Ki Rengga diminta untuk melakukan hal-hal berikut:
Melaksanakan dzikir Ya Hayyu Ya Qayyum di tengah malam, sebanyak 344 kali, didahului dengan membaca basmallah.
Agar tidak salah menghitung, buatlah sodokan apem sebanyak 344 buah setiap kepala keluarga.
Lemparkan apem tersebut satu-persatu di hamparan daun pisang disertai membaca dzikir pada setiap purnama di bulan Suro. Setelah itu baca doa untuk keselamatan dan kesejahteraan warga Kendal, kemudian tutup dengan daun pisang. Lalu, bagikan apem ke semua orang yang hadir, jika masih sisa maka bagikan ke warga lain.
Demikianlah ulasan mengenai tradisi Wahyu Kliyu beserta sejarah panjangnya yang berkaitan erat dengan pagebluk di masa penjajahan Belanda.
Baca juga: 3 Tradisi Orang Melayu yang Menarik untuk Dipelajari
