Konten dari Pengguna

Mengenang Perjuangan Sultan Hasanuddin dalam Melawan Penjajahan Belanda

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perjuangan Sultan Hasanuddin. Sumber foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perjuangan Sultan Hasanuddin. Sumber foto: Unsplash

Perjuangan Sultan Hasanuddin dalam melawan penjajahan Belanda memang dikenal gigih dan penuh keberanian sehingga pahlawan nasional ini mendapat julukan "Ayam Jantan dari Timur".

Atas jasa-jasanya untuk Indonesia, setiap warga negara patut mengingat dan mengetahui kisah di balik perjuangannya. Untuk penjelasan lebih lengkap, simak di bawah ini.

Profil Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan dari Timur

Ilustrasi perjuangan Sultan Hasanuddin. Sumber foto: Unsplash

Jika mendengar istilah "Ayam Jantan dari Timur", kita pasti akan teringat dengan sosok Pahlawan Nasional Indonesia asal Sulawesi yang terkenal gagah dan berani melawan Belanda, yakni Sultan Hasanuddin.

Mengutip buku 5 Sultan Nusantara Melawan Penjajah karya Noer Al Khosim, Sultan Hasanuddin merupakan raja ke-16 dari Kerajaan Gowa. Beliau lahir pada 12 Januari 1631.

Pahlawan Nasional Indonesia yang memiliki nama lahir Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape ini memang dikenal berani dan gagah saat menghadapi penjajahan Belanda.

Karena keberaniannya, beliau mendapat julukan "de Haav Van de Oesten" atau "Ayam Jantan dari Timur". Selain itu, beliau memang dikenal ahli dalam merancang strategi peperangan.

Perjuangan Sultan Hasanuddin Melawan Belanda

Perjuangan Sultan Hasanuddin melawan Belanda sendiri dimulai saat VOC ingin menguasai rempah-rempah yang ada di perairan Sulawesi dan Maluku. Hal ini tentu saja membuat Sultan Hasanuddin murka.

VOC adalah kongsi dagang yang dibuat oleh Belanda di mana kongsi ini dibangun untuk menggabungkan usaha dan mengurangi persaingan para pedagang yang berasal dari Eropa.

Seiring berjalannya waktu, VOC berusaha melakukan monopoli sehingga mendapat penolakan dari Kerajaan Gowa. Akhirnya, Sultan Hasanuddin mengumumkan persiapan perang dengan mempersatukan beberapa kerajaan yang ada di sekitar Gowa.

Pertempuran yang berlangsung lama ini membuat Kerajaan Gowa semakin melemah. Hingga akhirnya, Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian dengan VOC, yakni Bongaya.

Perjanjian Bongaya berisi beberapa perjanjian, di antaranya:

  • Sultan Hasanuddin wajib memberi kebebasan untuk VOC berdagang di kawasan Makassar dan Maluku.

  • VOC memegang kendali atas perdagangan Indonesia bagian Timur.

  • Kerajaan Bone yang diserang Sultan Hasanuddin dikembalikan pada Aru Palaka yang diangkat menjadi Raja Bone.

Perjanjian yang merugikan Kerajaan Gowa itu sendiri terpaksa ditandatangani. Akan tetapi, hingga akhir hayatnya, Sultan Hasanuddin terus melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.