Konten dari Pengguna

Mitos Pindah Rumah Hari Sabtu yang Menarik untuk Diketahui

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mitos pindah rumah hari sabtu. Foto: Unsplash/ Dillon Kydd
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mitos pindah rumah hari sabtu. Foto: Unsplash/ Dillon Kydd

Mitos pindah rumah hari Sabtu menjadi salah satu kepercayaan yang cukup melekat di tengah masyarakat Indonesia.

Mitos ini juga kerap dikaitkan dengan filosofi bahasa dan budaya lokal. Dalam tradisi Jawa, pemilihan hari baik bukan hanya perkara waktu, tetapi juga berkaitan erat dengan keberuntungan dan keselamatan.

Itu sebabnya hari Sabtu sering dihindari untuk acara-acara besar, termasuk pindah rumah. Dari mana sebenarnya asal mula mitos ini? Apakah masih relevan untuk dipercaya pada masa kini?

Mitos Pindah Rumah Hari Sabtu

Ilustrasi mitos pindah ruma hari sabtu. Foto: Unsplash/ Egor Ivlev

Mitos pindah rumah hari Sabtu tak lepas dari pengaruh budaya dan filosofi lokal. Pindah rumah adalah momen penting dalam kehidupan, yang kerap diiringi berbagai pertimbangan, termasuk kepercayaan atau mitos yang berkembang di masyarakat.

Salah satu mitos yang cukup populer di Indonesia adalah larangan pindah rumah pada hari Sabtu. Meski terdengar sepele, ternyata mitos ini memiliki akar budaya yang cukup kuat.

Asal Usul Mitos Hari Sabtu

ILustrasi mitos pindah rumah hari sabtu. Foto: Unsplash/ Phil Hearing

Dalam kepercayaan tradisional Jawa, setiap hari memiliki energi dan makna tersendiri. Hari Sabtu dikenal sebagai Setu yang dianggap membawa aura penutupan atau akhir.

Dikutip dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, masyarakat Jawa meyakini bahwa hari-hari tertentu memiliki watak dan cocok untuk aktivitas tertentu.

Hari Setu dianggap bukan hari yang baik untuk memulai hal besar seperti pindah rumah, karena bisa membawa kesialan atau hambatan ke depan.

Kata Setu dalam beberapa dialek terdengar seperti sepetu atau sepet, yang memiliki konotasi kurang baik, yaitu sesuatu yang getir atau suram. Inilah sebabnya orang tua zaman dulu sering melarang anak-anaknya pindah rumah pada hari Sabtu.

Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukung, kepercayaan semacam ini bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang.

Ketika seseorang percaya bahwa hari Sabtu membawa nasib buruk untuk pindahan, perasaan cemas atau ragu bisa timbul. Hal ini bisa berdampak pada kenyamanan tinggal di rumah baru.

Budaya Indonesia yang kental dengan nilai-nilai spiritual dan adat membuat banyak orang masih menjunjung tinggi mitos ini sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Menghargai tradisi lokal seperti ini menjadi bagian dari menjaga kearifan budaya.

Memercayai atau tidaknya mitos pindah rumah hari Sabtu adalah pilihan pribadi. Di zaman modern, kebanyakan orang lebih mempertimbangkan aspek logistik, seperti hari libur atau waktu senggang untuk pindah rumah. (Arf)

Baca juga: Mitos Rumah Jejer 3 Menurut Kepercayaan Masyarakat Jawa