Konten dari Pengguna

Mitos Rebo Wekasan, Tradisi Penangkal Bala yang Dilakukan Masyarakat

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mitos Rebo Wekasan, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/David Monje
zoom-in-whitePerbesar
Mitos Rebo Wekasan, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash/David Monje

Rebo Wekasan menjadi salah satu tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim yang ada di wilayah Pulau Jawa. Di balik tradisi tersebut, terdapat mitos Rebo Wekasan yang menarik untuk diketahui guna menambah wawasan.

Di Indonesia ada banyak mitos beredar di masyarakat. Dikutip dari buku Ilmu Alamiah Dasar, Bramianto Setiawan, dkk., (2022:55), mitos adalah imajinasi manusia untuk menerangkan gejala pada alam pada saat tertentu yang dikaitkan dengan kepercayaan gaib.

Mitos Rebo Wekasan yang Beredar di Kalangan Masyarakat

Mitos Rebo Wekasan, foto hanya ilustrasi, bukan yang sebenarnya: Unsplash

Salah satu mitos yang menarik untuk diketahui adalah mitos Rebo Wekasan yang banyak diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Mengutip buku Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah, Reyvan Maulid, (2024:36), Rebo Wekasan artinya Rabu terakhir di bulan Safar, yang berasal dari gabungan kata bahasa Jawa, yaitu Rebo (Rabu) dan Wekasan (akhir).

Jadi, pada hari Rabu terakhir bulan Safar, biasanya masyarakat melakukan tradisi Rabu Wekasan yang diisi dengan kegiatan ibadah. Ibadah yang dilakukan seperti puasa sunah, salat sunah, pembacaan doa dan ayat Al-Qur’an, dan tahlil serta zikir.

Di balik tradisi tersebut, Rebo Wekasan juga menyimpan mitos di kalangan masyarakat.

Rebo Wekasan diyakini oleh masyarakat sebagai hari diturunkannya banyak bencana. Pada hari tersebut, masyarakat dilarang untuk bepergian jauh atau beraktivitas yang berlebih karena dapat menimbulkan kecelakaan atau hal lain yang tidak diinginkan.

Bahkan, ada mitos yang mengatakan bahwa dilarang untuk menggelar pernikahan saat Rebo Wekasan. Hal ini dikarenakan pernikahan yang dilakukan saat Rebo Wekasan bisa mendatangkan musibah, hingga membuat pernikahan berakhir dengan perceraian.

Tidak jarang ada masyarakat yang memilih untuk berdiam diri di rumah dan memanjakan doa kepada Allah.

Banyaknya mitos yang beredar ini membuat masyarakat melakukan ritual penolak bala dengan melakukan berbagai rangkaian ibadah saat Rebo Wekasan.

Dengan mitos bahwa Rabu Wekasan disebut sebagai hari turunnya bala, maka masyarakat memilih untuk melakukan ibadah sebagai penolak bala tersebut. Keyakinan ini berasal dari tradisi lama yang diyakini oleh masyarakat.

Tradisi Rebo Wekasan sering menimbulkan pro-kontra dari berbagai kalangan, karena tidak ada dalil khususnya.

Dikutip dari buku Warisan Ulama Nusantara, Ainun Lathifah, (2022:61), diketahui bahwa dasar Rebo Wekasan berasal dari Syekh Abdul Hamid Kudus dalam kitab Kanzun Najah was Surur.

Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Allah menurunkan ratusan ribu jenis musibah pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Diketahui Syekh Abdul Hamid Kudus telah menulis banyak kitab yang mencakup berbagai bidang ilmu keislaman.

Oleh karena itu, banyak masyarakat percaya mitos dari Rebo Wekasan dan menjalankan tradisi dengan melakukan berbagai kegiatan ibadah. Tradisi ini pun menjadi salah satu kegiatan yang kerap dilakukan oleh sejumlah umat Muslim yang berada di Pulau Jawa.

Itulah informasi mengenai mitos Rebo Wekasan yang kerap dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Dengan mengetahui kisah tersebut, maka bisa menambah wawasan seputar tradisi yang ada di tanah air. (Prima)

Baca juga: Mitos Burung Hantu Datang ke Rumah Menurut Budaya Nusantara