Mumi adalah Mayat yang Diawetkan, Ini Sejarah dan Cara Kerjanya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
Ā·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mumi adalah mayat yang diawetkan dengan cara tertentu untuk mempertahankan bentuk dan strukturnya. Praktik pemumian ini telah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan paling terkenal diterapkan oleh masyarakat Mesir Kuno.
Lingkungan Mesir yang kering dan panas membuat pengeringan tubuh menjadi mudah, tetapi prosesnya rumit dan religius.
Sejarah Mumi
MumiĀ adalah orang mati atau makhluk hidup lain yang diawetkan dengan cara dikeringkan. Mumi tidak hanya ditemukan di Mesir, banyak budaya di seluruh dunia memiliki tradisi pemumian yang unik.
Praktik pemumian di Mesir Kuno dimulai sekitar 2600 SM selama periode Dinasti Ketiga.
Pada awalnya, proses pemumian dilakukan secara sederhana, tetapi seiring waktu menjadi semakin rumit.
Masyarakat Mesir percaya bahwa kehidupan setelah mati sangat penting dan menjaga tubuh tetap utuh adalah kunci untuk keberlangsungan jiwa di dunia selanjutnya.
Cara Kerja Pemumian
Proses pemumian memiliki beberapa langkah penting dan bervariasi tergantung pada budaya dan waktu. Mengutip study, berikut cara kerja dalam pemumian, terutama dalam konteks Mesir Kuno:
1. Pencucian dan Penghilangan Organ
Langkah pertama adalah mencuci tubuh dengan air dan garam. Kemudian mengeluarkan organ dalam seperti hati, paru-paru, perut, dan usus.
Biasanya organ tersebut diawetkan secara terpisah dalam wadah khusus dan dimasukkan kembali ke dalam tubuh di kemudian hari.
Jantung sering kali dibiarkan di dalam tubuh karena dianggap sebagai pusat pikiran dan perasaan.
2. Pengeringan
Setelah organ dihilangkan, tubuh diolesi dengan natron untuk menghilangkan kelembapan.
Proses ini memakan waktu sekitar 40 hari dan sangat penting untuk mencegah pembusukan.
3. Pembalutan dan Pemakaian Resin
Setelah pengeringan, tubuh akan dibalut dengan kain linen yang telah dicelup dalam resin.
Resin ini berfungsi sebagai pengawet tambahan dan memberikan perlindungan terhadap unsur-unsur luar.
Pembalutan ini juga memiliki makna simbolis dan melambangkan perjalanan menuju kehidupan setelah mati.
Selain itu, pembalutan dilengkapi dengan barang-barang yang dianggap diperlukan di akhirat seperti makanan, perhiasan, dan barang-barang berharga lainnya.
4. Penempatan dalam Peti Mati
Setelah semua proses selesai, mumi akan ditempatkan dalam peti mati yang biasanya terbuat dari kayu atau batu.
Peti mati ini sering kali dihias dengan gambar dan tulisan yang memiliki makna spiritual.
Itulah pengertian mumi dari sejarah hingga cara kerjanya. Proses mumi bukan hanya sekadar praktik pengawetan, tetapi juga mencerminkan pandangan Mesir Kuno tentang kehidupan setelah mati.
Baca juga: 5 Tradisi Galungan dan Kuningan di Bali yang Unik
