Pengaruh Perang Dunia 1 dalam Bidang Politik di Indonesia

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengaruh Perang Dunia 1 dalam bidang politik di Indonesia terutama adalah memperkuat perkembangan pergerakan nasional di Indonesia yang kala itu baru bermunculan.
Di bawah ini, akan dijelaskan pengaruh Perang Dunia 1 dalam bidang politik di Indonesia berdasarkan buku IPS Terpadu karya Nana Supriatna, dkk.
Pengaruh Perang Dunia 1 dalam Bidang Politik
Perang Dunia 1 berlangsung bersamaan dengan awal tumbuh dan berkembangnya pergerakan nasional di Indonesia. Ketika itu, Belanda khawatir kalau daerah jajahan Indonesia melepaskan diri.
Oleh karena itu, sejak Perang Dunia 1 berakhir, Belanda melakukan langkah politik untuk mencegah peningkatan tuntutan persamaan hak, kemerdekaan, atau penentuan nasib sendiri oleh bangsa Indonesia.
Di lain sisi, kegiatan politik organisasi pergerakan nasional meningkat dengan ditandai dengan pembentukan milisi oleh Budi Utomo dan Sarekat Islam yang bertujuan untuk mempertahankan Hindia Belanda.
Pada 1916, berbagai organisasi pergerakan nasional mengirim delegasi ke Belanda untuk menemui Ratu Wilhelmina. Adapun usulan mereka untuk membangun milisi ditolak, tapi usulan untuk membentuk dewan rakyat disepakati.
Pemerintah kolonial saat itu akhirnya membentuk Volksraad pada 1918 yang disusul dengan pemilihan anggota. Abdul Muis dan Abdul Rivai terpilih menjadi anggota.
Sedangkan, anggota seperti Tjipto Mangunkusumo dan H.O.S Tjokroaminoto ditunjuk oleg Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum. Sedangkan, anggota lain adalah para bupati yang kooperatif dengan Belanda.
Berakhirnya Perang Dunia 1, membuat Stirum segera memberi janji-janji pada bangsa Indonesia, seperti janji menberikan kewenangan besar pada Volksraad dalam kehidupan politik dan menyetujui perbaikan kondisi sosial ekonomi Indonesia.
Pengaruh komunis di Indonesia semakin meningkat setelah berakhirnya Perang Dunia 1. Hal ini ditunjukkan dengan bergabungnya pendukung komunis dalam ISDV yang di awal berdiri memiliki anggota hingga 3.000 orang.
Kelompok ISDV bergerak militan dan berusaha melawan pemerintah kolonial secara langsung dengan cara menyusup dalam organisasi pergerakan nasional dengan cara radikal dan non kooperatif.
Beberapa tindakan radikal yang dilakukan oleh unsur pergerakan nasional setelah berakhirnya Perang Dunia 1, antara lain:
Gerakan sosial pedesaan yang dilakukan para petani di Surakarta yang dipimpin oleh Haji Misbach pada 1919.
Penembakan terhadap seorang penguasa perkebunan Belanda di Tolitoli, Sulawesi utara pada 1919. Saat itu Central Sarekat Islam dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab.
Pemberontakan rakyat dan penembakan pada pejabat di Garut, Jawa Barat pada Mei 1919. Divisi B Sarekat Islam dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab.
Pemberontakan PKI terhadap Belanda di berbagai daerah, yaitu Batavia, Banten, Priangan, Sumatera pada 12 November 1926.
Cara radikal dan kekerasan menyulitkan pememrintahan kolonial, namun juga mendapat dukungan dari sebagian kaum nasionalis.
Walaupun belum memberikan hasil yang diinginkan, demikian adalah pengaruh Perang Dunia 1 dalam bidang politik di Indonesia. (SP)
