Konten dari Pengguna

Perwakilan Anggota PPKI dari Kalimantan dan Peran Pentingnya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan. Foto: Unsplash.com/Jeremy Rorimpandey
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan. Foto: Unsplash.com/Jeremy Rorimpandey

Perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan adalah tokoh penting yang memiliki peran besar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Keterlibatannya menjadi simbol bahwa setiap daerah turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Perannya tidak hanya sebatas hadir, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi masyarakat daerah dengan kepentingan nasional.

Perwakilan Anggota PPKI dari Kalimantan

Ilustrasi Perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan. Foto: Unsplash.com/Rizky Rahmat Hidayat

Dikutip dari buku Pengetahuan Sosial Sejarah, Drs. Tugiyono, dkk (halaman: 8), perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan adalah Anang Abdul Hamidhan atau yang lebih dikenal dengan nama A.A. Hamidhan.

Ia merupakan seorang tokoh pers dan pejuang yang lahir di Rantau, Kalimantan Selatan, pada 25 Februari 1909.

Aktivitas A.A. Hamidhan berdiskusi dengan para tokoh masyarakat di Banjarmasin serta Kandangan untuk menyalurkan suara rakyat mengantarkannya dipilih sebagai wakil Kalimantan dalam PPKI.

Saat proklamasi kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945, Hamidhan turut hadir menyaksikan momen bersejarah itu, sekaligus memastikan bahwa semangat kemerdekaan tersampaikan hingga ke tanah Kalimantan.

Dalam rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 18 Agustus 1945, A.A. Hamidhan terlibat bersama tokoh nasional lain yang ditunjuk Presiden Soekarno untuk masuk dalam Panitia Kecil.

Tugas panitia ini cukup krusial, yakni merancang pembagian wilayah, kepolisian, militer kebangsaan, hingga sistem perekonomian.

Sidang yang kembali digelar sehari setelahnya menetapkan keputusan penting, termasuk mengusulkan Pangeran Muhammad Noor sebagai calon gubernur Kalimantan.

Keputusan tersebut memperlihatkan betapa pentingnya representasi daerah dalam struktur pemerintahan Indonesia yang baru lahir.

Tidak berhenti di situ, pada 24 Agustus 1945 Hamidhan bersama adiknya, A.A. Rivai, berangkat membawa kabar proklamasi dari Jawa ke Kalimantan.

Berita itu kemudian dipublikasikan melalui surat kabar Borneo Shimbun di Banjarmasin dan Kandangan, yang ikut menyebarkan teks proklamasi, UUD 1945, serta pengangkatan Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernur Kalimantan.

Langkah ini menjadi bukti nyata kontribusinya dalam memastikan semangat kemerdekaan tersampaikan ke pelosok daerah.

Peran A.A. Hamidhan tidak hanya berhenti pada masa awal kemerdekaan. Ia juga mendirikan surat kabar Soeara Kalimantan yang kemudian berganti nama menjadi Indonesia Merdeka seusai Konferensi Meja Bundar.

Media tersebut berfungsi sebagai sarana perjuangan sekaligus penggerak semangat nasionalisme di Kalimantan.

Walau pada akhirnya ia menjual surat kabar tersebut pada tahun 1961 karena kecewa terhadap kondisi kebebasan pers, dedikasinya tetap tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh penting asal Kalimantan.

A.A. Hamidhan wafat pada 21 Agustus 1997 di Banjarmasin. Sosoknya dikenang sebagai pejuang sekaligus perintis pers yang mengabdikan hidupnya demi kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Perwakilan anggota PPKI dari Kalimantan adalah cerminan bahwa semangat kemerdekaan Indonesia tidak hanya terpusat di Jawa, tetapi juga menyala di seluruh daerah nusantara. (Suci)

Baca Juga: Perubahan dari Sidang PPKI Tanggal 18 Agustus 1945 yang Patut Diketahui