Pidato Soekarno Jas Merah pada HUT RI ke-21

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pidato Soekarno Jas Merah adalah pidato penting yang disampaikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1966 dalam peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Dalam pidato ini, Soekarno mengingatkan pentingnya bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Pidato Soekarno Jas Merah
Pidato Soekarno Jas Merah menjadi salah satu pidato terkenal Soekarno, Presiden Indonesia pertama. Mengutip situs p2k.stekom.ac.id, Jas Merah adalah akronim dari ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.
Jas Merah merupakan semboyan yang terkenal yang diucapkan Soekarno dalam pidatonya yang terakhir sebagai seorang presiden pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.
Menurut A. H. Nasution, Jas Merah merupakan judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Soekarno, bukan judul yang diberikan oleh Soekarno.
Presiden Soekarno memberi judul pidato tersebut untuk mempertahankan garis politiknya, yakni ‘Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’.
Dalam pidatonya itu, Bung Karno menyebutkan antara lain masyarakat Indonesia menghadapi tahun yang gawat, perang saudara, dan seterusnya.
Dalam pidato Soekarno Jas Merah, Bung Karno juga menyebutkan MPRS belumlah berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) hasil pemilu terbentuk.
Suyatno, yang merupakan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret, menyebut pidato tersebut adalah pidato kepresidenan terakhir Soekarno.
Suyatno juga mencatat terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato Jas Merah.
Itu memperlihatkan betapa penting dan sejarah untuk Bung Karno.
Kutipan Isi Pidato Jas Merah
Dikutip dari buku Kau Kusebut Pecundang, Pemuda Hina (2021:379), berikut kutipan pidato Jas Merah yang Soekarno sampaikan:
Hasil-hasil positif yang telah dicapai di masa yang lampau jangan dibuang begitu saja. Membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau tidak mungkin.
Sebab, kemajuan yang aku miliki sekarang ini adalah akumulasi dari hasil-hasil perjuangan di masa lampau, yaitu hasil-hasil perjuangan dari generasi nenek moyangku sampai kepada generasi yang sekarang ini.
Melalui pidato Soekarno Jas Merah, rakyat Indonesia diajak Bung Karno untuk menjadikan sejarah sebagai pedoman dalam membangun masa depan yang lebih baik dan berdaulat. (Mey)
Baca juga: Perbedaan Rumusan Dasar Negara dalam Piagam Jakarta dengan Pembukaan UUD 1945
