Proses Terbentuknya Fosil, Pengertian, dan Jenis-jenisnya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fosil memiliki peranan yang cukup penting dalam menentukan sejarah bumi dan peradaban masa lampau. Proses terbentuknya fosil merupakan salah satu kajian dalam bidang ilmu geologi.
Mengutip dari situs openjournal.unpam.ac.id, peran fosil terutama untuk mengetahui umur batuan yang mengandung minyak dan gas bumi.
Tak hanya itu, peran fosil juga untuk mengetahui batuan yang mengandung mineral, sejarah pengendapan dan naik turun permukaan air laut serta mengungkap kejadian masa lampau yang telah mengubah peradaban manusia.
Proses Terbentuknya Fosil dan Jenis-jenisnya
Bagaimana proses terbentuknya fosil? Mengutip dari Mengenal Fosil, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, proses ini memakan waktu panjang, mulai dari ribuan hingga jutaan tahun.
Proses terbentuknya fosil disebut fosilisasi. Dalam situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, inilah peristiwa-peristiwa yang menyebabkan terbentuknya fosil:
Peristiwa pertama adalah penggantian atau replacement. Peristiwa ini biasa terjadi pada bagian keras dari organisme seperti cangkang. Contohnya saat sebuah cangkang yang awalnya terdiri dari kalsium karbonat, lalu digantikan oleh silika.
Selanjutnya ada peristiwa petrifaction, yaitu peristiwa yang terjadi pada bagian lunak dari batang tumbuhan diganti oleh presipitasi mineral yang terlarut dalam air sedimen.
Peristiwa karbonisasi yaitu daun atau mineral tumbuhan yang jatuh ke dalam rawa terlindung dari oksidasi dan berubah menjadi cetakan karbon tanpa mengubah bentuk aslinya.
Peristiwa pencetakan adalah peristiwa pada saat diagenesa sisa binatang atau tumbuhan terlarut sehingga terjadilah rongga, seperti cetakan (mold) yang bentuk dan besarnya sama dengan benda aslinya. Apabila rongga ini terisi oleh mineral maka terbentuklah hasil cetakan (cast) binatang/tumbuhan tersebut.
Fosil sendiri biasanya lebih berat daripada tulang hewan biasa yang sudah lama terkubur. Sebab, selama proses fosilisasi terjadi pergantian senyawa organik yang ada di dalam tulang fosil tersebut dengan mineral-mineral di sekitar tempat pengendapannya.
Warna fosil pada umumnya lebih gelap dari tulang/tumbuhan segar biasa. Hal ini dikarenakan fosil telah mengalami proses fosilisasi yang panjang. Fosil yang terendapkan di lingkungan sungai umumnya berwarna hitam dan sangat keras.
Untuk mengetahui dengan pasti apakah suatu tulang sudah menjadi fosil atau belum, perlu dilakukan analisis unsur pada tulang tersebut. Tulang hewan atau sisa tumbuhan disebut fosil apabila pada tulang tersebut sudah tidak mempunyai senyawa organik di dalamnya.
Mengutip dari situs byjus.com, fosil merupakan sisa-sisa atau jejak organisme yang pernah hidup. Secara umum, ada empat jenis fosil, yaitu fosil tubuh, fosil molekuler, jejak fosil, dan fosil karbon.
Fosil tubuh adalah sisa-sisa fosil hewan atau tumbuhan, seperti tulang, cangkang, dan daun. Fosil molekular sering disebut sebagai biomarker, banyak dari bahan kimia ini berubah dengan cara yang diketahui dan dapat stabil selama miliaran tahun.
Lalu untuk jejak fosil adalah jejak yang ditinggalkan oleh hewan atau tumbuhan yang telah meninggalkan jejak. Terakhir fosil karbon adalah semua makhluk hidup mengandung unsur yaitu karbon.
Ketika suatu organisme mati dan terkubur dalam sedimen, bahan-bahan yang membentuk organisme tersebut akan hancur dan akhirnya hanya karbon yang tersisa.
Demikianlah penjelasan tentang proses terbentuknya fosil, pengertian, dan jenis-jenisnya. Jejak fosil mengungkap aktivitas makhluk hidup yang telah lama punah. (IF)
Baca juga: Cara Pengamatan Fosil untuk Dijadikan Sumber Sejarah
