Rumah Adat Lampung, Simbol Identitas dan Sejarah Daerah

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rumah adat Lampung mencerminkan kekayaan budaya yang penuh nilai filosofi serta mencatat jejak kearifan lokal masyarakatnya.
Melestarikan rumah adat ini berarti menjaga hubungan harmonis antara masyarakat, tradisi, dan alam.
Rumah Adat Lampung
Mengutip dari situs p2k.stekom.ac.id, salah satu rumah adat Lampung yang terkenal adalah Nuwo Sesat. Nuwo Sesat berfungsi sebagai tempat pertemuan adat bagi para purwatin atau penyimbang (tetua adat) untuk melaksanakan pepung adat atau musyawarah.
Rumah ini menjadi simbol kebersamaan dan wadah pengambilan keputusan penting dalam kehidupan masyarakat Lampung. Selain digunakan untuk rapat adat, Nuwo Sesat juga menjadi ikon budaya yang mencerminkan identitas dan kearifan lokal masyarakatnya.
Struktur Nuwo Sesat terbagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi khusus. Anjungan atau serambi digunakan untuk pertemuan kecil, sedangkan Pusiban menjadi ruang utama untuk musyawarah resmi.
Ada juga Ruang Tetabuhan sebagai tempat menyimpan alat musik tradisional, Ruang Gajah Merem untuk beristirahat para penyimbang adat, serta Ijan Geladak berupa tangga masuk dengan atap.
Selain itu, terdapat Kebik Tengah yang menjadi tempat tidur anak, menunjukkan bahwa rumah ini juga memiliki fungsi domestik. Bentuk dan ukuran Nuwo Sesat bervariasi sesuai dengan status sosial pemiliknya.
Seperti, Sesat Balai Agung yang merupakan bangunan utama untuk musyawarah adat, Nuwo Balak adalah rumah besar milik kepala suku atau penyimbang adat, dan Nuwo Lunik digunakan oleh masyarakat biasa.
Masing-masing tipe rumah ini memiliki ciri arsitektur serupa, namun berbeda dalam ukuran, kelengkapan ruang, dan ornamen.
Ditinjau dari sisi arsitektur, Nuwo Sesat dibangun menggunakan konsep rumah panggung yang ditopang oleh kayu, yang berguna untuk melindungi penghuni dari ancaman banjir dan serangan hewan liar.
Atap Nuwo Sesat yang lebar dahulu terbuat dari anyaman ilalang dan kini banyak diganti genteng, sementara ornamen seperti ukiran motif perahu dan hiasan payung berwarna putih, kuning, dan merah melambangkan hierarki sosial.
Lantai dan dinding Nuwo Sesat terbuat dari kayu yang di mana hal ini menciptakan nuansa hangat, sementara penataan ruangnya melambangkan filosofi keterbukaan serta persatuan masyarakat Lampung.
Rumah adat Lampung menghadirkan perpaduan estetika dan filosofi hidup masyarakat setempat. Bangunannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol identitas dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. (Fikah)
Baca juga: 5 Rumah Adat Kalimantan Tengah dan Ciri Khasnya
