Konten dari Pengguna

Sejarah Bir Pletok, Minuman Khas Betawi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Bir Pletok, Unsplash/BENCE BOROS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Bir Pletok, Unsplash/BENCE BOROS

Sejarah bir pletok mencerminkan kreativitas masyarakat Betawi dalam menciptakan minuman tradisional yang unik.

Minuman bir pletok sebagai identitas budaya juga diketahui hadir pada acara perhelatan budaya orang Betawi seperti pernikahan, sunatan, hari lahir, dan hari perayaan budaya yang kini telah menjadi ikon Betawi.

Sejarah Bir Pletok

Ilustrasi Sejarah Bir Pletok, Unsplash/Gerrie van der Walt

Dikutip dari buku Sastra Rempah, Aprinus Salam, dkk., (589-594), dalam sejarah bir pletok, meski tidak diketahui dengan persis waktu kehadirannya, minuman bir pletok telah ada sejak meneer dan mevrouw Belanda di Batavia.

Penamaan bir pletok tidak lepas dari eksistensi masyarakat pribumi dan bangsa Belanda kala itu. Zaman dahulu, ketika masa penjajahan Belanda, warga pribumi tidak mau kalah dengan penjajah yang suka main bir.

Oleh sebab itu, warga pribumi menciptakan minuman sendiri yang fungsinya hampir sama, menghangatkan tubuh.

Terkait dengan nama pletok sendiri, setidaknya ada 3 cerita yang mendasari.

Pertama, diambil dari bunyi pletok yang keluar dari bambu karena hasil pencampuran bahan-bahannya. Kedua, bunyi pletok dari es batu yang beradu di dalam teko berisi bir itu.

Ketiga, bunyi pletok yang berasal dari kulit secang yang adalah salah satu bahan minuman tersebut.

Sejarawan JJ Rizal menjelaskan sejarah bir pletok di Betawi sebagai tiruan anggur barat tanpa alkohol.

Menurutnya, bir pletok yang terbuat dari aneka rempah-rempah berkhasiat untuk kesehatan. Orang pribumi saat itu banyak menyaksikan orang Belanda berpesta. Ukuran kemewahannya adalah seberapa banyak anggur yang dikeluarkan.

Menyaksikan tingkah orang Belanda ini, timbul iri di hati warga pribumi sekaligus ingin juga mencicipi anggur buatan Belanda tetapi itu merupakan minuman keras dan haram dalam Islam.

Selain itu, bagi orang pribumi budaya itu terlalu jauh. Peniruan yang dilakukan oleh orang pribumi adalah membuat bir pletok yang mengadaptasi bir orang Eropa.

Bentuknya hampir sama dengan bir orang Eropa tetapi tidak mengandung alkohol sebagai bentuk perlawanan orang pribumi bahwa bir pletok yang dibuat adalah bir racikan sendiri dari rempah-rempah.

Bentuk perlawanan warga pribumi ini sesuai dengan ajaran agama yang diyakini bahwa diharamkan meminum khamar (minuman beralkohol) karena termasuk perbuatan setan.

Berdasarkan sejarah bir pletok, Indonesia, khususnya Betawi, patut berbangga dengan adanya bir pletok di tengah hadirnya berbagai minuman produksi dari berbagai daerah dan bangsa di dunia.

Jika wine diakui sebagai warisan kekayaan dunia, bir pletok sebagai saingannya pada zaman kolonial dari masa lalu dapat dijadikan warisan kekayaan dunia terutama pada kombinasi rempahnya. (Mey)

Baca Juga: Filosofi Nagasari sebagai Panganan Tradisional yang Tak Habis Dimakan Zaman