Sejarah Hari Raya Nyepi, Hari Raya Penuh Makna untuk Umat Hindu

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Hari Raya Nyepi merupakan bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan umat Hindu. Nyepi adalah salah satu hari yang suci bagi umat Hindu, khususnya di Indonesia.
Dikutip dari disbud.bulelengkab.go.id, Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden Indonesia Nomor 3 tahun 1983. Perayaan ini dikenal juga sebagai hari raya keheningan.
Pada hari ini, semua aktivitas duniawi dihentikan untuk memberikan waktu umat Hindu melakukan refleksi diri dan penyucian jiwa.
Sejarah Hari Raya Nyepi, Hari Raya Penuh Makna untuk Umat Hindu
Membahas sejarah Hari Raya Nyepi tentu tidak akan lepas dari makna yang melandasi perayaan ini. Secara historis, Hari Raya Nyepi berasal dari tradisi Hindu yang berasal dari India, kemudian berkembang di Nusantara seiring masuknya agama Hindu ke Indonesia.
Hari Raya Nyepi dirayakan pada setiap Tahun Baru Saka, yang jatuhnya pada Tilem Kesanga, atau bulan mati ke-9 menurut perhitungan kalender Bali.
Tahun Baru Saka sendiri dimulai sejak tahun 78 Masehi, dan sejak saat itulah perhitungan tahun Saka menjadi pedoman untuk kalender Hindu di Indonesia.
Nyepi berasal dari kata “sepi”, yang artinya adalah sunyi atau hening. Tujuan utama dari Hari Raya Nyepi adalah hari perenungan spiritual untuk menyucikan Bhuana Alit atau alam manusia, dan Bhuana Agung atau alam semesta.
Umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian pada perayaan ini, yaitu adanya empat pantangan yang dilakukan selama 24 jam penuh, diantaranya:
Amati Geni atau tidak menyalakan api dan cahaya lainnya
Amati Karya atau tidak bekerja
Amati Lelungan atau tidak bepergian kemanapun
Amati Lelanguan atau tidak menikmati hiburan apapun
Sehari sebelum pelaksanaan Nyepi, umat Hindu mengadakan upacara Melasti, sebuah ritual penyucian diri dan benda-benda suci ke lautan.
Lalu pada malam harinya, digelarlah pawai ogoh-ogoh. Pawai ini dengan membawa patung raksasa sebagai simbol kejahatan, kemudian diarak keliling dan dibakar sebagai bentuk pengusiran roh jahat.
Pada Hari Raya Nyepi sendiri, suasana menjadi sangat hening, khususnya di Pulau Bali. Bandara, jalan, dan tempat-tempat umum ditutup. Momen ini menciptakan suasana di dunia, di mana seluruh bagian pulau benar-benar berhenti beraktivitas.
Bagi umat Hindu, momen ini adalah waktu yang terbaik untuk melakukan introspeksi, meditasi, dan mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.
Sejarah Hari Raya Nyepi mencerminkan kebijaksanaan para leluhur dalam menjaga keharmonisan diri dan alam. Nilai-nilai yang terkandung seperti ketenangan, kedamaian, dan refleksi diri sangat relevan untuk kehidupan sekarang yang penuh kesibukan. (Zen)
Baca Juga: 3 Contoh Negara Diktator di Dunia yang Paling Kejam
