Sejarah Ibadah Tawaf sebagai Bagian dari Rukun Haji yang Wajib Dilakukan

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah ibadah tawaf memiliki makna mendalam dalam ajaran Islam dan merupakan salah satu rukun utama dalam pelaksanaan ibadah haji maupun umrah. Ritual ini melambangkan ketundukan kepada Allah serta kesatuan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.
Tawaf yang berarti mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam, telah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim dan terus dilestarikan oleh umat Muslim hingga saat ini.
Mengutip situs baznas.jogjakota.go.id, tawaf menggambarkan kesederhanaan, kesetiaan, dan ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt.
Sejarah Ibadah Tawaf
Tawaf adalah salah satu ibadah utama dalam haji dan umrah yang dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali berlawanan arah jarum jam. Berikut ini adalah sejarah ibadah tawaf.
Sejarah tawaf bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS untuk membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS. Setelah selesai dibangun, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyeru manusia agar datang berhaji dan beribadah di Baitullah.
Sebagai bagian dari ibadah ini, umat manusia diperintahkan untuk mengelilingi Ka’bah sebagaimana yang dilakukan oleh para malaikat di Baitul Ma’mur (Ka’bah di langit).
Pada masa sebelum Islam, penduduk Makkah tetap menjalankan tawaf, tetapi ritual ini mengalami penyimpangan. Ka’bah dijadikan tempat pemujaan berhala, dan orang-orang Quraisy melakukan tawaf dalam keadaan telanjang karena menganggap pakaiannya penuh dosa.
Orang-orang Quraisy juga mencampurkan tawaf dengan syair-syair jahiliyah yang bertentangan dengan nilai tauhid.
Ketika Islam datang, Rasulullah ﷺ menghapus semua praktik jahiliyah ini dan mengembalikan tawaf kepada ajaran murni sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.
Setelah penaklukan Makkah pada tahun 8 Hijriyah, Rasulullah ﷺ memasuki Ka’bah dan menghancurkan berhala-berhala yang ada di sekelilingnya.
Rasulullah ﷺ kemudian melakukan tawaf sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan memberikan contoh kepada umat Islam tentang tata cara yang benar.
Pada Haji Wada’ (Haji Perpisahan) di tahun 10 Hijriyah, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa tawaf adalah bagian dari rukun haji yang harus dilakukan setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji.
Sejak saat itu, tawaf menjadi bagian dari syariat Islam yang terus dilestarikan hingga sekarang. Dalam pelaksanaannya, tawaf memiliki beberapa jenis, antara lain:
Tawaf Ifadah: Tawaf wajib yang dilakukan setelah wukuf di Arafah, sebagai salah satu rukun haji.
Tawaf Qudum: Tawaf yang dilakukan oleh jamaah haji ketika pertama kali tiba di Makkah sebagai penghormatan kepada Baitullah.
Tawaf Wada’: Tawaf perpisahan sebelum meninggalkan Makkah setelah menyelesaikan ibadah haji.
Tawaf Sunnah: Tawaf yang bisa dilakukan kapan saja sebagai bentuk ibadah dan penghormatan kepada Allah.
Makna dan Hikmah Tawaf
Praktik tawaf ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap menjadi simbol kepatuhan serta kedekatan dengan Allah. Berikut adalah makna dan hikmahnya:
1. Simbol Ketundukan kepada Allah
Tawaf mencerminkan ketundukan total kepada Allah, sebagaimana planet-planet yang berputar mengelilingi matahari dalam keteraturan.
2. Meneladani Para Nabi dan Malaikat
Gerakan mengelilingi Ka’bah merupakan bentuk ibadah yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim AS dan sesuai dengan aktivitas malaikat yang bertawaf di Baitul Ma’mur.
3. Penyatuan Umat Islam
Saat melakukan tawaf, semua Muslim dari berbagai ras, suku, dan bangsa berkumpul dalam satu tempat dengan tujuan yang sama, yaitu menyembah Allah.
Dengan memahami sejarah ibadah tawaf, umat Islam dapat lebih menghayati makna spiritual di balik setiap langkah yang dilakukan saat mengelilingi Ka'bah. (Fikah)
Baca Juga: Sejarah Ka'bah sebagai Tempat Ibadah Umat Muslim
