Konten dari Pengguna

Sejarah Jalan Gejayan, Ruas Kota yang Menyimpan Banyak Cerita

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah jalan gejayan. Unsplash/Le Vu
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah jalan gejayan. Unsplash/Le Vu

Sejarah Jalan Gejayan bukan sekadar urat nadi transportasi. Ini ruang perjuangan, edukasi, dan perubahan. Dari desa kecil, titik demonstrasi berdarah, hingga ikon budaya dan seni.

Jalan Gejayan mencerminkan perjalanan panjang Yogyakarta, dari masa kolonial, melalui reformasi, ke era modern.

Sejarah Jalan Gejayan, dari Desa ke Pusat Aktivisme

Ilustrasi sejarah jalan gejayan. Unsplash/Falco Negenman

Sejarah Jalan Gejayan bermula sebelum 1946, ketika kawasan ini merupakan kumpulan desa, Kentungan, Manukan, Gorongan, dan Gejayan.

Seusai pemekaran desa pada 1946, ruas ini berubah menjadi akses vital ke kampus-kampus ternama di Yogyakarta, UGM, UNY, USD, Atma Jaya, hingga UIN Sunan Kalijaga.

Saat ini, kawasan itu bergabung menjadi Condongcatur, membentuk koridor penting yang menghubungkan Ring Road Utara dengan Jalan Solo/Yogya dan berkembang menjadi pusat kegiatan kampus.

Namun, yang paling mencolok dalam sejarahnya adalah peristiwa berdarah Mei 1998, ketika ruas jalan ini menjadi medan pertempuran antara mahasiswa dan aparat.

Jalan Gejayan menjadi titik sentral demonstrasi mahasiswa sejak 1998 hingga era modern, termasuk “Gejayan Memanggil” pada 2019.

Pada 8 Mei 1998, massa berkali-kali mencoba bergabung dengan aksi di UGM, tetapi aparat memblokade.

Hal ini seperti yang tertulis dalam jurnal etd.umy.ac.id, jika peristiwa yang sempat menjadi topik pembicaraan hampir semua media ialah aksi Gejayan Memanggil. Aksi demonstrasi mahasiswa yang melibatkan ribuan massa.

Bentrokan pecah sore hari, menewaskan satu mahasiswa, Moses Gatotkaca, dan melukai banyak lainnya. Satu nama itu lalu diabadikan sebagai Jalan Mozes Gatutkaca di kawasan kampus USD.

Jalan ini terus menjadi jantung pergerakan sosial. Aksi “Gejayan Memanggil” tidak hanya terjadi pada 1998, tetapi juga muncul kembali pada 2004, 2005, dan puncaknya 2019.

Dengan ribuan massa dari mahasiswa dan warga sipil turun ke jalan untuk menolak berbagai kebijakan, dari kenaikan BBM hingga RUU kontroversial.

Kemudian pada 20 Mei 2007, nama resmi Jalan Gejayan diubah menjadi Jalan Affandi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai penghormatan kepada maestro seni lukis Affandi.

Perubahan ini diperingati lewat karnaval meriah lengkap dengan becak hias dan kesenian tradisional, meski nama Gejayan tetap akrab di lidah warga.

Demikian sejarah Jalan Gejayan mencerminkan evolusi kawasan dari permukiman pedesaan kecil menjadi pusat pendidikan dan politisasi.

Sejarahnya juga mengajarkan masyarakat bahwa satu ruas jalan bisa menyimpan cerita nilai keberanian, identitas kolektif, dan evolusi peradaban kota. (Rahma)

Baca juga: Sejarah Jalan Inhoftank Bandung, Jalan dengan Sejarah yang Unik