Konten dari Pengguna

Sejarah Jalan Sabang Jakarta sebagai Ikon Kuliner Ibu Kota

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Jalan Sabang Jakarta sebagai Ikon Kuliner Ibu Kota, Unsplash/Alehandrew Michael
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Jalan Sabang Jakarta sebagai Ikon Kuliner Ibu Kota, Unsplash/Alehandrew Michael

Sejarah Jalan Sabang Jakarta menyimpan jejak panjang perkembangan kota metropolitan ini sejak masa kolonial Belanda.

Mengutip dari buku Pedagang Kaki Lima, Gilang Permadi (2007), Jalan Sabang dikenal sebagai pusat kuliner ini dulunya bernama Jalan Agus Salim, dan telah mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu.

Lokasinya yang strategis di kawasan Menteng membuat Jalan Sabang menjadi saksi bisu pertumbuhan ibu kota, mulai dari era penjajahan hingga masa modern.

Sejarah Jalan Sabang Jakarta

Ilustrasi Sejarah Jalan Sabang Jakarta, Unsplash/Lintang Drestanta

Sejarah Jalan Sabang Jakarta bermula pada masa kolonial Belanda, saat kawasan ini dikenal dengan nama Laan Holle dan menjadi salah satu pusat aktivitas bisnis serta hunian elit di Batavia.

Setelah Indonesia merdeka, nama jalan ini diubah menjadi Jalan Sabang, mengacu pada kota Sabang di ujung barat Indonesia, sebagai bagian dari semangat nasionalisme.

Seiring berjalannya waktu, Jalan Sabang mengalami transformasi besar dan menjelma menjadi salah satu ikon kuliner paling legendaris di Jakarta.

Mulai dari tahun 1960-an, berbagai tempat makan mulai bermunculan di sepanjang jalan ini.

Beberapa di antaranya bahkan telah beroperasi selama lebih dari lima dekade, seperti Sate Kambing Jaya Agung yang berdiri sejak 1963, Bakmi Roxy yang terkenal dengan mie ayamnya, serta rumah makan Padang legendaris yang menyajikan rendang khas Sumatera Barat.

Tidak hanya restoran permanen, Jalan Sabang juga dipenuhi pedagang kaki lima yang menawarkan kuliner malam seperti nasi goreng kambing, soto ceker, martabak, hingga es campur.

Kawasan ini dikenal hidup hampir sepanjang hari, terutama saat malam tiba.

Suasananya yang ramai dan beragam pilihan makanan menjadikannya destinasi favorit bagi para pecinta kuliner, wisatawan, hingga pekerja kantoran. Lokasinya yang strategis di pusat kota dekat Sarinah dan akses Transjakarta menambah daya tarik kawasan ini.

Itulah penjelasan mengenai sejarah Jalan Sabang Jakarta sebagai ikon kuliner ibu kota. Sebagai ikon kuliner Jakarta, kawasan ini tetap menjadi tujuan favorit pecinta makanan dari berbagai generasi.

Baca Juga: Sejarah Blok di Jakarta, Salah Satunya Blok M yang Tak Pernah Tidur