Sejarah Kabupaten Sukabumi dari Masa Kolonial hingga Kini

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Kabupaten Sukabumi memiliki kaitan erat dengan dinamika kekuasaan kolonial, perkembangan administrasi pemerintahan, serta peran penting wilayah ini dalam struktur wilayah Priangan.
Kabupaten ini mengalami sejumlah perubahan status administratif yang mencerminkan transformasi sosial dan politik sepanjang abad ke-19 hingga ke-20.
Kisah pembentukannya tidak bisa dilepaskan dari peristiwa-peristiwa penting yang melibatkan kepentingan pemerintah kolonial Belanda dan pengaruhnya terhadap struktur wilayah di Jawa Barat.
Sejarah Kabupaten Sukabumi
Dikutip dari portal.sukabumikota.go.id, sejarah Kabupaten Sukabumi bermula dari masa pemerintahan kolonial Belanda, saat daerah ini tergabung dalam wilayah administratif Afdeling Cianjur dan belum berdiri sebagai kabupaten tersendiri.
Nama Sukabumi pertama kali muncul sekitar tahun 1815 atas usulan para kepala pribumi yang ingin mengganti nama daerah Kacutakan Gunung Parang menjadi Soeka Boemi.
Usulan ini disampaikan kepada seorang administrator Belanda bernama Andries de Wilde. Sejak saat itu, nama Sukabumi mulai dikenal luas dan digunakan secara resmi.
Pada tahun 1914, Sukabumi memperoleh status administratif penting ketika Pemerintah Hindia Belanda menetapkan wilayah ini sebagai Gemeente atau kotamadya melalui Staatsblad Hindia Belanda No. 310.
Penetapan tersebut dilakukan karena banyaknya warga Belanda dan Eropa yang tinggal di kota ini untuk mengelola perkebunan di bagian selatan Kabupaten Sukabumi.
Demi memberikan pelayanan khusus, dibentuklah pemerintahan lokal dipimpin oleh seorang Burgemeester atau wali kota.
Meski sudah berdiri sebagai kotamadya sejak 1914, Kabupaten Sukabumi baru benar-benar dipisahkan dari Afdeling Cianjur pada tanggal 6 Juni 1921.
Sejak saat itu, terbentuklah struktur pemerintahan Kabupaten Sukabumi secara mandiri, terpisah dari kota Sukabumi yang masih berstatus Gemeente.
Dalam struktur ini, pemerintahan kabupaten membawahi wilayah pedesaan, sementara pemerintahan kota melayani daerah yang lebih urban.
Perubahan status pemerintahan terjadi kembali saat pendudukan Jepang antara tahun 1942 hingga 1945.
Pemerintah kolonial digantikan oleh sistem Jepang, dan Gemeente Sukabumi berubah menjadi Soekaboemi Shi, sedangkan Kabupaten Sukabumi menjadi Soekaboemi Ken.
Istilah Burgemeester diganti menjadi Shityo untuk kota, sedangkan pemimpin kabupaten disebut Kentyo. Meskipun hanya berlangsung beberapa tahun, masa pendudukan Jepang turut meninggalkan jejak struktural dalam sistem birokrasi lokal.
Pasca kemerdekaan Indonesia tahun 1945, wilayah kota Sukabumi sempat berganti status menjadi kota kecil, lalu berubah lagi menjadi Kotapraja pada tahun 1957 berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.
Sementara itu, Kabupaten Sukabumi tetap mempertahankan statusnya sebagai daerah administratif tingkat dua di bawah provinsi Jawa Barat. Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi sendiri tidak dipisahkan dari sejarah berdirinya kota Sukabumi.
Pemerintah menetapkan 1 April 1914 sebagai Hari Jadi Sukabumi, merujuk pada pengesahan Gemeente Soekaboemi melalui Staatsblad pada masa Hindia Belanda.
Penetapan ini kemudian diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 1985, menjadikan tanggal tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah pemerintahan lokal di wilayah Sukabumi.
Meskipun kini memiliki status administratif yang berbeda, jejak sejarah antara keduanya masih terjalin erat.
Hingga kini, Kabupaten Sukabumi tetap memainkan peran penting sebagai wilayah penyangga yang memiliki kekayaan alam, sejarah, serta struktur birokrasi yang berakar dari masa kolonial.
Perjalanan panjangnya merekam dinamika perubahan politik dan budaya yang menjadikan Sukabumi sebagai daerah dengan identitas kuat di tanah Sunda.
Sebagai penutup, sejarah Kabupaten Sukabumi bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga menjadi dasar bagi arah pembangunan dan pemaknaan identitas wilayah hingga kini. (Shofia)
Baca Juga: Sejarah Mie Instan yang Jarang Diketahui Banyak Orang
