Konten dari Pengguna

Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio, Jejak Sejarah dan Budaya Tionghoa di Tangerang

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio. Pexels/zhang kaiyv
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio. Pexels/zhang kaiyv

Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio menyimpan kisah panjang yang tak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi juga jejak budaya Tionghoa yang mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat Kota Tangerang.

Menurut sejarah, kelenteng ini telah berdiri sejak lebih dari 300 tahun lalu. Di balik arsitektur khasnya, tersimpan simbol, tradisi, dan nilai-nilai leluhur yang terus hidup hingga kini dan tentunya menarik untuk ditelusuri.

Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio

Ilustrasi Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio. Pexels/selina li

Berdasarkan studi Perancangan Buku Ilustrasi Klenteng Boen Tek Bio Tangerang karya Pratiwi dan Tjipto (2023: 4–5), berikut adalah rincian sejarah Kelenteng Boen Tek Bio yang disusun sesuai dengan fase perkembangannya.

1. Latar Belakang dan Awal Pendirian

Kelenteng ini dibangun tahun 1684 oleh para kongsi pedagang Petak Sembilan. Kelompok tersebut mendirikan tempat ibadah untuk menghormati Dewi Kwan Im, yang dikenal sebagai Dewi Kebajikan dalam kepercayaan Tionghoa.

Saat itu, kelenteng dinamai “Boen Tek Bio” yang berarti “Tempat Ibadah Sastra Kebajikan.” Makna ini selaras dengan sifat Dewi Kwan Im, menjadikan kelenteng sebagai ruang spiritual yang menjunjung nilai kebaikan dan kebajikan.

Pada awal berdirinya, bangunan masih sangat sederhana, hanya berupa tiang bambu yang beratap rumbia. Meski demikian, kelenteng sudah difungsikan sebagai tempat sembahyang bagi umat Tionghoa di kawasan Tangerang.

2. Masa Renovasi dan Lahirnya Tradisi

Tahun 1844 bangunan mulai menyerupai rumah. Renovasi besar baru dilakukan pada 1856 oleh tukang dari Tiongkok, bertujuan agar gaya arsitekturnya menyerupai bentuk kelenteng tradisional Tionghoa yang lebih otentik dan sakral.

Selama proses renovasi itu, empat kimsin suci dipindahkan sementara ke Klenteng Boen San Bio. Setelah rampung, kimsin dikembalikan dengan arak-arakan sebagai bentuk syukur sekaligus penghormatan pada dewa atau leluhur.

Arak-arakan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi masyarakat Cina Benteng bernama Gotong Taekhdoak. Tradisi ini digelar setiap dua belas tahun sekali pada tahun shio naga, bulan 8 dalam kalender Imlek.

3. Fase Penyempurnaan sampai Sekarang

Tahun 1875, delapan gedung tambahan dibangun di sisi kanan dan kiri altar utama. Bangunan ini digunakan sebagai ruang ibadah tambahan, memperluas fungsi kelenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan.

Lalu, renovasi terakhir berlangsung pada 1904, dengan penambahan dekorasi dan ornamen artistik. Unsur visual tersebut memperkuat nuansa sakral dan memperindah tampilan interior utama Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang.

Hingga kini, Kelenteng Boen Tek Bio tetap menjadi pusat ibadah bagi umat Konghucu dan Buddha, sekaligus simbol sejarah panjang penghormatan terhadap Dewi Kwan Im di tengah masyarakat Tionghoa Kota Tangerang.

Demikian ulasan mengenai sejarah Kelenteng Boen Tek Bio yang menjadi jejak budaya Tionghoa di Tangerang. (Nida)

Baca Juga: Sejarah Gereja Tiberias dan Perkembangannya di Indonesia