Sejarah Kelenteng Dewi Laut Bangka, Tempat Ibadah sekaligus Kearifan Lokal

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai ruang ibadah yang kaya makna simbolik, sejarah Kelenteng Dewi Laut Bangka mencerminkan lebih dari sekadar tradisi keagamaan. Tempat ini menyimpan jejak budaya yang layak untuk dipahami lebih dalam.
Kelenteng ini terletak di kawasan Pantai Tanjung Bunga, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang. Lokasinya yang menghadap laut memperkuat nuansa spiritual dan nilai sakral yang kerap menarik perhatian publik.
Sejarah Kelenteng Dewi Laut Bangka
Berdasarkan studi Perancangan Buku Informasi Kelenteng di Bangka karya Marsela (2018: 57–58), sejarah Kelenteng Dewi Laut Bangka mencerminkan jejak spiritualitas Tionghoa yang tumbuh di pesisir timur Pulau Bangka.
Kelenteng ini mulai dibangun pada tahun 2003 sebagai tempat penghormatan terhadap Dewi Laut. Namun, proses konstruksinya sempat terhenti pada 2007 karena kekurangan dana yang dialami oleh pihak pengelola setempat.
Pembangunan dilanjutkan kembali pada tahun 2008 setelah memperoleh tambahan dana, termasuk bantuan pemerintah sebesar 30 persen. Kelenteng Dewi Laut akhirnya diresmikan secara resmi pada tanggal 24 April 2011.
Bangunan kelenteng Dewi Laut Bangka berdiri di atas lahan berukuran 60 x 40 meter, dilengkapi patung dua belas shio sebagai perlambang siklus waktu dan kekuatan kosmis dalam pandangan tradisional Tionghoa.
Untuk memperkuat nilai edukatif dan kulturalnya, pemerintah mengajukan syarat agar situs ini terbuka sebagai destinasi wisata, menjadikannya ruang publik yang menggabungkan fungsi keagamaan dan pelestarian budaya.
Ciri Khas Kelenteng Dewi Laut Bangka
Sejak didirikan, kelenteng ini dikenal sebagai tempat pemujaan bagi tujuh tokoh suci atau Shenming. Ketujuhnya mewakili berbagai aspek, seperti pendengaran, penglihatan, dan perlindungan, sebagaimana rincian berikut:
Sung Eng Ngi (dewa pendengar)
Chen Ling Ngan (dewa melihat)
Tian Hao San Me (dewi laut)
Thu Ti Pak Kung (dewa bumi)
Kwan Ti (dewa perang)
Lu We Hi (mustika laut)
Dewi Kwan Im (dewi belas kasih)
Masyarakat Tionghoa meyakini para Shenming tersebut memegang peranan penting dalam melindungi kehidupan. Karena itu, semuanya dihormati melalui altar khusus dan persembahan ritual yang terus diwariskan.
Simbolisme spiritual juga terlihat pada ornamen naga berwarna hijau (air), kuning (api), dan coklat (kayu). Ada pula lilin, minyak, dan api yang ditempatkan sebagai perlambang rezeki, cahaya hidup, serta penerang spiritual.
Situs ini menjadi pusat perayaan besar seperti Sembahyang Rebut, yaitu ritual menenangkan arwah tidak wajar, dan ulang tahun Dewi Laut yang rutin diperingati setiap tanggal 23 bulan tiga dalam kalender Imlek.
Demikian ulasan mengenai sejarah Kelenteng Dewi Laut Bangka yang patut untuk diketahui. Bagi pencinta warisan budaya, situs ini menyajikan wujud arsitektur Tionghoa yang menarik untuk ditelusuri secara langsung. (Nida)
Baca Juga: Sejarah Gereja Tiberias dan Perkembangannya di Indonesia
