Sejarah Kelenteng Kong Fuk Miau, Warisan Tionghoa di Bangka Belitung

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kelenteng Kong Fuk Miau adalah peninggalan budaya Tionghoa tertua di Bangka Belitung. Sejarah Kelenteng Kong Fuk Miau tetap eksis dilestarikan sampai sekarang. Hingga kini kelenteng ini berdiri kokoh sebagai simbol kerukunan dan keberagaman.
Dikutip dari skripsi Ismawati, Desi. (2019), Analisis Potensi Wisata Kelenteng Kong Fuk Miau Sebagai Wisata Religi di Kota Muntok, xiv, kelenteng yang bercorak Taois-Konfusianis ini terletak di pusat Kampung Tanjung, Muntok, Bangka Barat.
Kelenteng Kong Fuk Miau adalah saksi sejarah bagi perjalanan kelompok Tionghoa di tanah Bangka Belitung, sekaligus objek wisata budaya yang menarik.
Sejarah Kelenteng Kong Fuk Miau
Sejarah Kelenteng Kong Fuk Miau berawal dari adanya kuil yang dibangun pada sekitar tahun 1800 oleh kelompok Tionghoa yang berasal dari Provinsi Fujian dan Guangdong. Mereka datang ke Pulau Bangka sebagai pekerja tambang timah.
Pada saat itu, gelombang migrasi besar-besaran dari Tiongkok menuju Bangka Belitung terjadi karena potensi tambang yang begitu besar di wilayah ini. Kelenteng ini pun menjadi tempat ibadah bagi masyarakat Tionghoa, sekaligus pusat sosial dan budaya.
Nama “Kong Fuk Miau” artinya “Tempat Suci untuk Kong Fuk.” Kong Fuk diyakini sebagai dewa pelindung dalam kepercayaan Tao.
Selain itu, kelenteng ini juga memuja Dewa Thian Shang Sheng Mu dan Dewa Kwan Im (Dewi Welas Asih). Kelenteng ini berfungsi untuk sembahyang dan sebagai tempat merayakan festival-festival penting seperti Imlek dan Cap Go Meh.
Bangunan Kelenteng Kong Fuk Miau berbentuk arsitektur khas Tionghoa klasik. Atapnya yang melengkung diperindah dengan hiasan naga dan ukiran dewa-dewi.
Sementara bagian dalam kelenteng, dipenuhi ornamen merah emas yang berarti keberuntungan. Di dalamnya terdapat altar utama, patung dewa, dan tempat dupa yang menjadi item untuk ritual keagamaan.
Pada tahun 2009, Kelenteng Kong Fuk Miau ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah karena nilai sejarah dan budayanya. Sehingga sangat penting untuk melestarikan situs-situs bersejarah sebagai identitas lokal dan nasional.
Selain itu, kelenteng ini juga menjadi simbol toleransi antar umat beragama. Hal ini karena disamping bangunan ini terdapat Masjid Jami sebagai tempat ibadah umat muslim. Meskipun berdampingan, tidak pernah terjadi konflik antara kedua umat beragama di sini.
Sejarah Kelenteng Kong Fuk Miau menjadi bukti eksistensi warisan budaya Tionghoa yang hidup di tanah Bangka Belitung. Kelestarian tempat ini merupakan tanggung jawab bersama, agar nilai sejarah dan semangat kebhinekaan tetap lestari dari generasi ke generasi. (Win)
Baca Juga: Sejarah Gereja Tiberias dan Perkembangannya di Indonesia
