Sejarah Kerajaan Banten Islam dari Asal Usul hingga Keruntuhannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Banten merupakan salah satu Kerajaan Islam yang berkembang di wilayah Pulau Jawa. Sejarah Kerajaan Banten Islam secara resmi didirikan pada awal abad ke-16 oleh Pangeran Maulana Hasanuddin.
Dikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial karya Waluyo, sejarah Kerajaan Banten tidak dapat dilepaskan dengan salah satu tokoh agama terkemuka yaitu Sunan Gunung Jati atau sebutannya Fatahillah. Beliau merupakan pendakwah tersohor di area Jawa Barat.
Sejarah Kerajaan Banten
Pada abad ke-5, daerah Banten menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya, serta menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang melibatkan berbagai kerajaan di seluruh wilayah Nusantara.
Kerajaan Banten resmi didirikan pada awal abad ke-16 oleh seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran yakni Maulana Hasanuddin. Akibat serangan Portugis yang menghancurkan Kerajaan Pajajaran, Maulana Hasanuddin lantas mendirikan Kerajaan Banten serta memilih Surosowan sebagai ibu kotanya. Ia juga mengganti namanya menjadi Sultan Maulana Yusuf.
Masa Kejayaan Kerajaan Banten
Masa kejayaan Kesultanan Banten dimulai pada sejak abad ke-16 sampai awal abad ke-17 di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa yang merupakan sosok dibalik kesuksesan Kerajaan Banten yang berkuasa dari tahun 1651 sampai 1683.
Selama periode tersebut, Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan di wilayah barat Pulau Jawa. Kerajaan Banten juga menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah yang terpenting di Asia Tenggara.
Lokasi Banten yang menghadap Selat Sunda dimanfaatkan dengan sangat apik yang menjadikan Banten sebagai salah satu pelabuhan terbesar di wilayah tersebut sehingga menghasilkan pendapatan besar dari sistem perdagangan internasional.
Masa kejayaan Kerajaan Banten juga mencerminkan berkembangnya seni dan budaya. Banten dikenal dengan seni keramiknya, khususnya tembikar berglazur yang cantik. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga menjalin hubungan dagang yang erat dengan banyak negara asing, termasuk Belanda, Inggris, hingga Portugal.
Keruntuhan Kerajaan Banten
Kerajaan Banten menjadi sasaran ekspansi kolonial oleh Belanda. Terlebih pihak kolonial mengamankan basisnya di wilayah Batavia dan berusaha menguasai berbagai wilayah penting di sekitarnya.
Munculah perjanjian panarukan yang menyebutkan bahwa Kerajaan Banten mengakui kedaulatan VOC di wilayah Banten yang membuat Banten menjadi negara bawahan VOC.
Di bagian internal Banten sendiri terdapat perpecahan internal dan perselisihan yang mengakibatkan terbaginya kesultanan menjadi dua bagian, yakni Kerajaan Banten Lama dan Kerajaan Banten Girang.
Sampai akhirnya Belanda berhasil menaklukkan Kerajaan Banten setelah mengalami beberapa pertempuran dan konflik bersama pasukan pemberontak. Sultan Muhammad Syafiuddin, selaku penguasa Kerajaan Banten saat itu, menyerah kepada Belanda tanggal 18 November 1832 yang menandai keruntuhan dari Kerajaan Banten.
Demikian penjelasan sejarah Kerajaan Banten Islam. (ARH)
