Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.99.0
Konten dari Pengguna
Sejarah Kolak dari Kuliner Tradisional hingga Jadi Ikon Hidangan Ramadan
28 Februari 2025 11:48 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Namun, perjalanan kolak hingga menjadi ikon hidangan Ramadan memiliki latar belakang sejarah dan filosofi yang menarik untuk ditelusuri. Lalu, bagaimana sejarahnya? Simak artikel berikut ini:
Sejarah Kolak
Mengutip dari malangkota.go.id, sejarah kolak dimulai sejak penyebaran Islam di Nusantara.
Para ulama dan penyebar agama Islam menggunakan kolak sebagai media dakwah untuk menyampaikan ajaran agama Islam.
Tidak heran jika kolak menjadi simbolisasi penyebaran Islam dalam budaya Jawa. Melalui simbolisme dalam bahan dan nama hidangan ini, pesan-pesan moral dan spiritual disisipkan agar lebih membumi dalam kehidupan sehari-hari.
Secara etimologis, kata "kolak" sendiri diduga berasal dari bahasa Arab "khalik" yang berarti Sang Pencipta. Penggunaan nama ini dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat akan kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
ADVERTISEMENT
Kolak tradisional terdiri dari bahan-bahan seperti pisang, ubi, santan, dan gula merah. Selain menghasilkan rasa manis dan gurih yang lezat, kombinasi ini juga sarat dengan makna simbolis.
Bahan utama dalam kolak seperti pisang kepok dan ubi memiliki makna filosofis tersendiri. Pisang kepok, misalnya diambil dari kata "kapok" yang berarti jera. Hal tersebut mengajarkan supaya manusia menyesali dan tidak mengulangi kesalahan.
Sementara itu, ubi atau dalam bahasa Jawa disebut "telo pendem". Hal tersebut melambangkan kesalahan masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam. Selain hal demikian, juga mengingatkan manusia akan kematian dan pentingnya introspeksi diri.
Santan juga menjadi bahan penting dari kolak. Dalam bahasa Jawa disebut "santen", sebuah idiom dari kata "pangapunten" yang berarti permintaan maaf. Hal ini mengajarkan pentingnya saling memaafkan dan menjaga hubungan harmonis antar sesama.
ADVERTISEMENT
Gula merah sebagai pemanis alami melambangkan manisnya kehidupan yang penuh dengan berkah ketika manusia hidup sesuai dengan ajaran agama.
Seiring berjalannya waktu, kolak mengalami berbagai inovasi dalam variasi dan penyajiannya. Beragam bahan tambahan seperti kolang-kaling, labu, singkong, hingga durian mulai dimasukkan ke dalam kolak sehingga menambah kekayaan rasa dan tekstur.
Meskipun demikian, esensi dan makna filosofis dari kolak tetap terjaga. Tidak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritual.
Pada bulan Ramadan, kolak menjadi hidangan yang hampir selalu hadir saat berbuka puasa. Kandungan gula dan karbohidrat dalam kolak membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.
Selain itu, tradisi menyajikan kolak saat Ramadan juga menjadi simbol kebersamaan dan kekeluargaan. Pada waktu buka puasa, setiap anggota keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan manis ini bersama-sama.
ADVERTISEMENT
Itulah sejarah kolak sebagai kuliner tradisional sekaligus hidangan ikonik setiap bulan Ramadan. Jangan sampai terlewat, ya! (rudin)