Konten dari Pengguna

Sejarah Masjid Luar Batang di Jakarta Utara

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Masjid Luar Batang, Unsplash/Katerina Kerdi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Masjid Luar Batang, Unsplash/Katerina Kerdi

Sejarah Masjid Luar Batang mencerminkan jejak peradaban Islam di Jakarta dan menjadi salah satu situs bersejarah yang sarat nilai spiritual serta budaya.

Dikutip dari situs jakarta-tourism.go.id, Masjid Luar Batang atau Masjid Jami Keramat Luar Batang adalah sebuah bangunan ibadah bersejarah yang terletak di daerah Penjaringan, Jakarta Utara.

Sejarah Masjid Luar Batang

Ilustrasi Sejarah Masjid Luar Batang, Unsplash/Esmonde Yong

Dikutip dari situs indonesia.go.id dan jakarta-tourism.go.id, dalam sejarah Masjid Luar Batang, masjid ini dibangun oleh seorang ulama asal Hadramaut, Yaman, yang bernama Al-Habib Husein bin Abubakar Alaydrus.

Dia diketahui tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1736. Bersama asistennya yang keturunan Tionghoa, Habib Abdul Kadir, Habib Husein berdakwah sambil mengajar mengaji di pesisir utara Batavia.

Seperti umumnya ulama-ulama pada saat itu, Habib Husein juga menentang kehadiran Belanda di tanah Batavia, Dia bahkan sempat merasakan dinginnya penjara karena sikapnya tersebut.

Pada tahun 1739, dengan dibantu oleh masyarakat, Habib Husein mulai membangun sebuah langgar atau surau dengan memanfaatkan rumah seorang warga di Kampung Baru.

Langgar bergaya khas Betawi seluas 6 m2 tersebut selesai pada 29 April 1739. Habib Husein menamainya Langgar Annur.

Kelak langgar tersebut diperbesar menjadi sebuah masjid seperti sekarang setelah mendapatkan hibah lahan yang cukup luas dari Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff.

Masjid ini kemudian diberi nama sesuai dengan julukan Habib Husein, yakni Habib Luar Batang.

Dia mendapatkan julukan tersebut karena konon ketika Habib Husein meninggal dan hendak dikuburkan di sekitar Tanah Abang, tiba-tiba jenazahnya sudah tidak ada di dalam ‘kurung batang’. Hal tersebut berlangsung hingga tiga kali.

Akhirnya diputuskan untuk memakamkannya di tempat sekarang sehingga maksudnya adalah keluar dari ‘kurung batang’.

Bangunan tua yang masih tersisa kini seperti gapura pintu gerbang dari pagar tembok yang melingkar mengelilingi masjid, ukiran pintu masuk serambi masjid, serta makam pendiri.

Sekarang Masjid Luar Batang menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi sebagai tempat wisata religi. Masjid ini dibuka untuk umum dan dapat dikunjungi kapan saja. Tidak heran jika banyak peziarah yang datang dan mendoakan Habib Husein.

Sejarah Masjid Luar Batang tidak hanya menjadi saksi perjalanan waktu tetapi juga terus hidup sebagai pusat kegiatan keagamaan dan warisan budaya yang tetap lestari hingga kini. (Mey)

Baca juga: Sejarah Masjid Sunan Kalijaga dalam Penyebaran Islam di Jawa