Sejarah Soto Tangkar, Makanan Legendaris Asal Betawi

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah soto tangkar berawal dari kreativitas masyarakat Betawi dalam mengolah iga sapi menjadi hidangan berkuah yang lezat dan kaya rasa, menjadikannya salah satu kuliner khas Betawi yang bertahan hingga kini.
Berbeda dari soto pada umumnya yang cenderung bening atau kuning, kuah soto tangkar menggunakan santan tetapi rasanya tidak terlalu berat.
Sejarah Soto Tangkar
Dikutip dari buku 100 Tempat Makan Makanan Sop dan Soto Pegangan Wajib Pecinta Wisata Kuliner, Lilly T Erwin dkk., (2008:70) dan situs p2k.stekom.ac.id, begini sejarah soto tangkar.
Menurut sejarah, pada zaman penjajahan Belanda, ketika para meneer Belanda akan menyelenggarakan pesta, para meneer tersebut biasanya memotong sapi untuk pesta itu.
Bagian-bagian tertentu dari sapi yang dipotong tersebut akan disisakan oleh para meneer untuk diberikan kepada para pekerja seperti bagian kepala, iga, dan bagian dalam (paru-paru, usus, babat, dan lain-lain).
Oleh para pekerja, bagian-bagian tersebut kemudian diolah menjadi makanan yang beragam. Salah satu bagian, yakni iga diolah menjadi makanan yang khas.
Iga itu direbus atau dimasak selama kurang lebih 2 jam. Setelah itu, dimasukkan bumbu atau rempah-rempah seperti lada, kunyit, daun sereh, daun salam, dan santan kelapa. Maka jadilah makanan yang disebut dengan soto tangkar.
Dalam sejarah soto tangkar, kata ‘tangkar’ sendiri dalam bahasa Betawi berarti iga sapi yang menjadi bahan utama dalam hidangan ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Betawi saat itu hanya mampu membeli tangkar berupa potongan iga yang berdaging sedikit disebabkan bagian daging sapi yang lain telah diambil oleh masyarakat Belanda.
Potongan iga tersebut kemudian diolah menjadi soto yang enak. Tetapi tentu saja sekarang telah berubah karena ke dalam soto tangkar dapat ditambahkan daging dan jeroan jika menyukainya.
Seiring waktu, soto tangkar tidak lagi sekadar makanan rakyat tetapi berkembang menjadi kuliner khas yang digemari oleh berbagai kalangan.
Hingga kini, soto tangkar tetap menjadi salah satu warisan kuliner Betawi yang banyak ditemukan di berbagai rumah makan dan festival kuliner Nusantara.
Sejarah soto tangkar menunjukkan bagaimana hidangan sederhana dari masa kolonial Belanda berkembang menjadi salah satu kuliner ikonik yang terus dinikmati hingga kini. (Mey)
Baca Juga: Sejarah Getuk, Kudapan Tradisional yang Jadi Ikon Kuliner Nusantara
