Konten dari Pengguna

Sejarah Tembok Ratapan sebagai Situs Suci di Yerusalem

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah Tembok Ratapan. Foto: Unsplash/ Levi Meir Clancy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah Tembok Ratapan. Foto: Unsplash/ Levi Meir Clancy

Sejarah Tembok Ratapan sering menjadi perhatian dunia karena daya tarik spiritual dan simbolismenya bagi berbagai kalangan.

Keberadaannya menyatukan berbagai tradisi keagamaan dan menjadi simbol perdamaian, harapan, serta refleksi sejarah umat manusia.

Situs ini tidak hanya menarik peziarah dan umat beragama, tetapi juga sejarawan, arkeolog, serta wisatawan yang ingin merasakan langsung atmosfer religius di salah satu tempat paling sakral di dunia.

Sejarah Tembok Ratapan

Ilustrasi sejarah Tembok Ratapan. Foto: Unsplash/ Arthur Tseng

Sejarah Tembok Ratapan tidak hanya mencerminkan aspek spiritual, tetapi juga mencerminkan perjalanan panjang kota Yerusalem sebagai pusat konflik dan perdamaian.

Tembok Ratapan diyakini sebagai sisa dari tembok penahan Bait Suci Kedua yang dibangun oleh Raja Herodes pada sekitar tahun 19 SM. Bait Suci tersebut menjadi pusat ibadah bagi umat Yahudi sebelum dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M.

Setelah kehancuran itu, Tembok Ratapan menjadi satu-satunya bagian yang tersisa dan dijadikan simbol kesedihan serta harapan pemulihan bangsa Yahudi.

Terletak di Kota Tua Yerusalem, tembok ini menjadi tempat umat Yahudi dari seluruh dunia datang untuk berdoa dan menyampaikan harapan mereka dengan menyelipkan catatan doa ke celah-celah batu.

Dikutip dari laman kemenag.go.id, tembok ini dianggap sebagai tempat paling sakral dalam tradisi Yahudi karena kedekatannya dengan lokasi Bait Suci yang telah hancur.

Selama berabad-abad, tembok ini menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah tiga agama besar Yahudi, Kristen, dan Islam yang semuanya memiliki keterikatan spiritual terhadap kawasan tersebut.

Tembok Ratapan memiliki panjang sekitar 488 meter, meskipun hanya sekitar 60 meter yang terlihat dan dapat diakses oleh publik saat ini.

Bagian yang terlihat dari tembok ini menjadi tempat umat Yahudi datang untuk berdoa, menuliskan harapan di secarik kertas kecil, dan menyelipkannya di celah-celah batu tembok.

Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan untuk pemulihan dan kedamaian.

Selain menjadi situs penting bagi Yahudi, lokasi Tembok Ratapan juga memiliki kaitan erat dengan sejarah tiga agama besar: Yudaisme, Kristen, dan Islam.

Tempat ini berdekatan dengan Haram al-Sharif (Noble Sanctuary) yang di dalamnya terdapat Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa. Oleh karena itu, kawasan ini kerap menjadi pusat perhatian dunia karena sensitivitas religius dan konflik politik yang menyertainya.

Selama berabad-abad, akses ke Tembok Ratapan mengalami berbagai hambatan tergantung pada kekuasaan politik yang menguasai Yerusalem.

Namun, sejak Perang Enam Hari tahun 1967, Israel mengambil alih kendali atas Yerusalem Timur, termasuk kawasan Tembok Ratapan, dan menjadikannya tempat terbuka untuk umum, terutama umat Yahudi yang ingin berdoa secara bebas di tempat tersebut.

Tembok Ratapan hingga kini tetap menjadi simbol spiritual yang kuat, tidak hanya bagi umat Yahudi, tetapi juga bagi mereka yang tertarik akan sejarah panjang Yerusalem sebagai kota suci.

Dengan setiap doa yang disampaikan di hadapan batu-batu kuno itu, Tembok Ratapan terus memperkuat posisinya sebagai lambang keteguhan iman dan harapan akan masa depan yang damai. (Arf)

Baca juga: Sejarah Masjid Agung Demak Singkat yang Terletak di Tanah Jawa