Konten dari Pengguna

Sejarah Tradisi Mitoni, Penyambutan Masa Kehamilan 7 Bulan di Jawa

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Mitoni, Unsplash/Alicia Petresc
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Tradisi Mitoni, Unsplash/Alicia Petresc

Sejarah tradisi Mitoni mencerminkan kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dikutip dari situs surakarta.go.id, Mitoni adalah upacara adat siklus hidup yang masih sering dijumpai di masyarakat Jawa, yakni selamatan ketika janin dalam kandungan berusia 7 bulan.

Tradisi ini dilakukan untuk memohon keselamatan yang ditujukan kepada calon ibu dan bayinya, serta memanjatkan doa-doa agar proses bersalin berjalan dengan lancar. Selain itu, diharapkan bayi yang dilahirkan menjadi pribadi yang luhur di masa depan.

Sejarah Tradisi Mitoni

Ilustrasi Sejarah Tradisi Mitoni, Unsplash/Juan Encalada

Dikutip dari jurnal Mitoni sebagai Tradisi Budaya dalam Masyarakat Jawa, Fitri Nuraisyah dan Hudaidah, (174), dalam sejarah tradisi Mitoni, tradisi ini telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Jayabaya.

Pada saat itu, ada sepasang suami istri yang mempunyai nama Niken Satingkeb dan Sadiyo (punggawa di Kerajaan Kediri). Niken melahirkan 9 anak tetapi tidak ada satu pun anaknya tersebut yang hidup.

Keduanya memutuskan untuk pergi ke Prabu Jayabaya dan menceritakan kisah hidupnya. Keduanya juga meminta agar dapat mempunyai anak kembali dan tidak mengalami kejadian yang sama seperti yang terjadi di masa lalunya.

Dalam sejarah tradisi Mitoni, Prabu Jayabaya akhirnya memberikan sebuah petunjuk untuk Niken Satingkeb agar melakukan 3 ritual, yaitu mandi setiap hari Rabu, mandi setiap hari Sabtu, dan mandi suci di sore hari sekitar jam 17.00.

Selain itu, alat mandi yang digunakan untuk mandi tersebut yakni berupa gayung tempurung kelapa dan dalam proses pemandian diselipkan doa-doa.

Dikutip dari situs surakarta.go.id, terdapat beberapa prosesi utama dalam Mitoni, yakni siraman pada siang hari, prosesi brojolan, dan prosesi ganti pakaian sebanyak 7 kali. Acara Mitoni ini akan ditutup dengan berjualan rujak dan makan bersama,

Dalam Mitoni, terdapat pula istilah-istilah yang berbeda dalam menyebut upacara adat ini. Di Jawa Tengah, 7 bulanan dikenal dengan istilah ‘Mitoni’, sementara di Jawa Timur lebih dikenal dengan tradisi ‘Tingkeban.

Di Madura disebut dengan ‘Pelet Kandhungan’ dan tradisi sejenis dikenal di Jawa Barat dengan istilah ‘Nujuh-Bulan’.

Sejarah tradisi Mitoni tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap kehidupan tetapi juga sebagai cerminan nilai-nilai kebersamaan dan spiritualitas masyarakat Jawa yang terus relevan hingga saat ini. (Mey)

Baca Juga: Tradisi Seren Taun, Latar Belakang, dan Sejarahnya