Konten dari Pengguna

Sejarah Tradisi Popokan dan Filosofinya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah tradisi popokan, Pexels/Blue Ox Studio
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah tradisi popokan, Pexels/Blue Ox Studio

Meski telah dijalankan secara turun-temurun hingga saat ini, masih banyak yang belum tahu sejarah tradisi popokan. Sedikit bocoran, tradisi tersebut berasal dari Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dikutip dari buku Asesmen Kognitif Pembelajaran IPA dengan Pendekatan STEM Berbasis Kearifan Lokal, Ahmad Annadzawil Arzaq, dkk., tradisi popokan dilakukan oleh masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur karena telah diberi keselamatan dan panen melimpah.

Pertanyaannya, bagaimana sejarah tradisi popokan? Jika ingin mengetahui penjelasannya, simak ulasan lengkapnya di sini.

Sejarah Tradisi Popokan

Ilustrasi sejarah tradisi popokan, Pexels/Goutam Mukherjee

Tradisi popokan merupakan kegiatan yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Sendang dan sekitarnya. Sejarah tradisi popokan sendiri bermula saat warga yang sedang kerja bakti didatangi macan.

Takut macan yang datang tiba-tiba menyerang, warga mencoba untuk mengusirnya. Sayangnya, sang macan tetap tidak mau pergi meski telah diusir dengan berbagai macam cara, termasuk menggunakan senjata tajam.

Merasa aneh dengan kejadian tersebut, seorang warga berinisiatif mendatangi sesepuh desa. Sesepuh desa lantas berpesan untuk mengusir macan menggunakan lendut yang dilemparkan ke arahnya.

Setelah kejadian itu, setiap tahunnya mayarakat Des Sendang selalu mengadakan tradisi popokan, tepatnya saat musim panen padi kedua. Selain melempar lendut, dalam tradisi ini juga mengguakan beberapa sesaji, seperti barongan macanan, lele, dan belut.

Diperkirakan tradisi popokan dimulai pada abad ke-18, saat Sultan Agung (1613-1645) memerintah Mataram. Pada awalnya, tradisi ini hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan, tetapi kemudian menyebar ke masyarakat luas.

Sebenarnya, tradisi popokan sempat dilarang untuk dilakukan di masa kolonial Belanda. Namun tetap dipertahankan secara diam-diam. Hal ini karena filosofi mendalamnya yang akan dibahas di bawah ini:

  • Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW

  • Mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebaikan, kesabaran, dan kebijaksanaan

  • Meningkatkan kesadaran dan keimanan masyarakat

  • Memperkuat ikatan sosial dan kekeluargaan

Demikianlah penjelasan mengenai sejarah tradisi popokan dan filosofinya. Sangat menarik untuk diketahui karena berkaitan dengan keragaman sosial budaya masyarakat Indonesia yang dilestarikan hingga kini meski dunia semakin modern.

Baca Juga: Sejarah Tradisi Punggahan untuk Menyambut Bulan Ramadan