Konten dari Pengguna

Sejarah Tradisi Punggahan untuk Menyambut Bulan Ramadan

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Punggahan, Foto: Unsplash/ibrahim abdullah
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Tradisi Punggahan, Foto: Unsplash/ibrahim abdullah

Tradisi punggahan adalah salah satu budaya yang dilakukan oleh masyarakat Muslim di berbagai daerah menjelang bulan Ramadan. Sejarah tradisi punggahan mencerminkan bentuk rasa syukur yang telah ada sejak dahulu saat menyambut bulan penuh berkah.

Mengutip Jurnal Al-Mada, Salma Al Zahra R. & Nor Mohammad A., (2022: 42), Punggahan berasal dari kata "Munggah," yang bermakna naik atau memasuki tempat tertinggi. Istilah ini mengandung makna ke arah yang lebih baik dari bulan Sya’ban menuju bulan Ramadan.

Sejarah Tradisi Punggahan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Punggahan, Foto: Unsplash/Rumman Amin

Sejarah tradisi punggahan tidak lepas dari pengaruh Islam yang masuk ke Nusantara. Pada zaman dahulu, para ulama menyebarkan ajaran Islam dengan memanfaatkan pendekatan budaya setempat.

Tradisi punggahan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga ketika menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa, khususnya di daerah Jawa Tengah. Tradisi ini mencerminkan akulturasi budaya, nilai-nilai Islam yang digabungkan dengan kearifan lokal yang telah lama berkembang.

Pelaksanaan Tradisi Punggahan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Punggahan, Foto: Unsplash/Abdullah Mukadam

Punggahan biasanya diselenggarakan di rumah, masjid, atau mushola dengan mengundang kyai, kerabat, dan masyarakat sekitar. Tradisi ini dilakukan beberapa hari menjelang bulan Ramadan.

Dalam kegiatan ini, warga berkumpul untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Ketika pelaksanaannya, beberapa makanan tradisional seperti kue apem disuguhkan untuk nantinya dimakan bersama.

Makna Tradisi Pungahan

Ilustrasi Sejarah Tradisi Punggahan, Foto: Unsplash/GR Stocks

Tradisi punggahan merupakan bagian dari persiapan spiritual, sosial, dan emosional dalam menyambut bulan suci Ramadan. Berikut adalah makna tradisi punggahan dalam diri masyarakat.

1. Makna Religius

Tradisi punggahan bermakna menaikkan doa dan harapan kepada Allah agar diberikan keberkahan dan kekuatan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga bermaksud memohon ampun atas segala dosa yang telah diperbuat.

2. Makna Sosial

Tradisi punggahan bertujuan untuk mempererat hubungan sosial di masyarakat. Kegiatan seperti makan dan doa bersama dilakukan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan keharmonisan.

3. Makna Budaya

Punggahan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya lokal. Di Jawa, punggahan sering dilakukan dengan kenduri atau bancakan, yaitu makan bersama dengan menu yang khas.

Demikianlah sejaran tradisi punggahan untuk menyambut bulan Ramadan. Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya menyambut Ramadan dengan penuh suka cita, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan, introspeksi diri, dan spiritualitas. (Nabila)

Baca Juga: Sejarah Tradisi Megibung yang Berasal dari Bali