Sejarah Wisata Tebing Breksi, Tempat Rekreasi yang Punya Pemandangan Memukau

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tebing Breksi menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta berkat keindahan alam dan bentuk tebingnya yang khas. Di balik pesonanya, terdapat kisah menarik yang terangkum dalam sejarah wisata Tebing Breksi.
Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, kawasan ini menyuguhkan perpaduan lanskap batuan megah dan sentuhan budaya lokal. Keunikan bentuknya berpadu erat dengan nilai sejarah yang begitu mengesankan.
Sejarah Wisata Tebing Breksi
Sejak bertahun-tahun lalu, Tebing Breksi telah menjadi pusat sumber kehidupan warga Desa Sambirejo. Dikutip dari laman indonesia.go.id dan prambanan.slemankab.go.id, berikut adalah rincian fase sejarah wisata Tebing Breksi:
1. Awal Mula Tebing Breksi
Di masa lalu, Tebing Breksi hanyalah lokasi penambangan batuan kapur yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Desa Sambirejo. Setiap bongkahan batu diambil dan dijual untuk kebutuhan konstruksi dan bahan bangunan.
Batuan kapur yang ditambang berasal dari endapan abu vulkanik letusan Gunung Api Purba Nglanggeran. Abu tersebut mengendap dan perlahan mengeras oleh waktu, lalu membentuk batuan breksi dengan struktur yang unik dan khas.
Karena cukup menguntungkan, aktivitas tambang terus berlangsung secara turun-temurun, menghasilkan galian tambang yang berbentuk tebing besar. Saat itu, masyarakat tidak menyadari bahwa lokasi ini menyimpan potensi geologis.
2. Pemberhentian Aktivitas Tambang
Tahun 2014 menjadi titik balik bagi Tebing Breksi. Tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) melakukan survei geologi dan menemukan jenis batuan tufan yang tergolong langka.
Penemuan itu membuat aktivitas penambangan harus dihentikan demi perlindungan situs geologi. Pemerintah dan masyarakat setempat sepakat untuk melakukan pelestarian kawasan, sekaligus menjaga nilai ilmiah batuan di sana.
Tak lama setelahnya, pada tahun 2015, Tebing Breksi resmi ditetapkan sebagai salah satu Geoheritage Yogyakarta. Status ini menegaskan pentingnya kawasan tersebut sebagai warisan alam yang layak untuk dijaga dan dipelajari.
3. Menjadi Destinasi Wisata
Usai tambang ditutup, mata pencaharian pun terkikis. Warga akhirnya mulai menghias tebing dengan pahatan cerita pewayangan dan simbol budaya agar kawasan tersebut menarik perhatian sebagai tempat kunjungan wisata.
Mulai dari pahatan Arjuna membunuh Buto Cakil, pahatan naga, hingga patung Semar, semua memberi sentuhan yang menghidupkan dinding tebing. Dengan dekorasi ini, kawasan bekas tambang Tebing Breksi tampak memukau.
Karena usaha itu, pada 30 Mei 2015, Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan Tebing Breksi sebagai destinasi wisata. Kini, kawasan tersebut menjadi kebanggaan warga dan sumber pendapatan bagi Desa Wisata Dewi Sambi.
Demikian ulasan mengenai sejarah wisata Tebing Breksi yang menarik untuk diketahui. Semoga tempat ini terus menjadi inspirasi bagi pengembangan wisata berkelanjutan berbasis budaya, alam, dan peran masyarakat sekitar. (Nida)
Baca Juga: Sejarah Masjid Nabawi dan Keistimewaannya untuk Umat Islam
