Temuan Von Koenigswald saat Melakukan Penggalian di Sangiran Surakarta

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Von Koenigswald sebagai peneliti asing telah menemukan sejumlah hal menarik saat melakukan penelitian di Sangiran, Surakarta. Temuan Von Koenigswald ini bahkan menjadi studi yang berpengaruh dalam sejarah evolusi menuasia.
Dikutip dati situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, Von Koenigswald bersama Weidenreich melakukan perjalanan ke Jawa untuk penelitian pada tahun 1936. Kegiatan yang dilakukan adalah memeriksa situs yang direlasikan dengan Pithecanthropus temuan E. Dubois.
Apa Saja yang Menjadi Temuan Von Koenigswald Saat Melakukan Penggalian di Sangiran Surakarta?
Berkat penelitian yang dilakukan oleh Von Koenigswald tersebut, ia berhasil menemukan sejumlah fosil yang menjadi bukti evolusi manusia. Salah satu temuan Von Koenigswald adalah fosil yang ditemukan pada tahun 1936 dan disebut Sangiran 1a.
Fosil tersebut menjadi yang pertama dalam “Koleksi Von Keonigswald”, dan merupakan fragmen rahang (mandibula) yang diperkirakan telah berumur 1,6 juta tahun. Usai penemuan tersebut, Sangiran pun menjadi sumber penelitian oleh Von Koenigswald.
Pada tahun-tahun berikutnya, ia berhasil menemukan sejumlah fosil lainnya. Beberapa hasil temuannya antara lain adalah sebagai berikut.
3 fragmen tengkorak Homo erectus (Sangiran 2, 3, dan 4).
5 fragmen mandibula (Sangiran 4, 5, 6a, 6b, dan 6c).
52 temuan gigi lepas (Sangiran 7).
Salah satu temuan penting yang berhasil didapatkan oleh Von Koenigswald adalah Sangiran 2, yang disebut sebagai Pithecanthropus erectus. Tidak hanya itu, temuan penting lainnya adalah fosil tengkorak dan rahang bawah dari Meganthropus paleojavanicus.
Dampak Penemuan Von Koenigswald
Adanya penelitian dan penemuan fosil yang dilakukan oleh Von Koenigswald ini, mampu mengungkap kehidupan manusia purba di Indonesia. Tidak hanya itu, penelitian ini juga memberikan wawasan berharga mengenai manusia purba yang ada.
Melalui penelitian tersebut, salah satu dampak positifnya adalah sejarah akan manusia purba di Indonesia terungkap. Dikutip dari buku Sejarah Peradaban Kuno Di Empat Benua, Andri Yanto, (2024:41), dapat diketahui cara hidup, persebaran, hingga dampak lingkungan yang terjadi pada spesies yang telah ditemukan.
Informasi tersebut tentu menambah wawasan akan sejarah manusia purba, khususnya di wilayah Indonesia dan Asia. Hal ini menunjukkan bukti nyata dari evolusi manusia yang tersebar di wilayah Indonesia.
Berbagai temuan Von Koenigswald tersebut, tidak hanya menambah bukti nyata dari evolusi manusia, namun juga menjadikan Sangiran sebagai salah satu situs penting untuk mempelajari manusia purba. (Haura)
Baca Juga: Persamaan Pithecantrophus Erectus Indonesia dan Sinanthropus Pekinensis Cina
