Konten dari Pengguna

Tokoh MIAI yang Terkenal dan Berperan Besar dalam Organisasi Tersebut

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tokoh MIAI. Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tokoh MIAI. Sumber: Unsplash

Tokoh MIAI mempunyai peran penting dalam pelaksanaan berbagai kegiatan dalam organisasi.

Dikutip dari buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia oleh Jan S. Aritonang, MIAI dibentuk karena adanya kasus penghinaan terhadap Islam. Salah satunya, yaitu tulisan Siti Soemandari dalam majalah Bangun terbitan Parindra.

Dalam MIAI, terdapat berbagai tokoh yang berperan. Bagaimana kisahnya?

Tokoh MIAI yang Terkenal dan Berperan Besar

Ilustrasi Tokoh MIAI. Sumber: Unsplash

Pada 18-21 September 1937, dilaksanakan pertemuan tujuh organisasi Islam atas inisiatif KH Mas Mansur, dua tokoh NU, yaitu KH M Dahlan dan KH Abdulwahab Hasbullah yang dibantu W Wondoamiseno.

Hasil dari pertemuan tersebut terbentuk sebuah badan musyawarah dengan nama Al Majlisul Islami A'la Indonesia yang disingkat MIAI.

Mulanya, MIAI dipimpin oleh sebuah sekretariat dengan ketua W Wondoamiseno yang dulunya bernama Wondosudirjo. Bendahara MIAI dipegang oleh KH M Dahlan dan KH Abdulwahab Hasbullah sebagai anggotanya.

Pada 26 Februari-1 Maret 1938, MIAI mengadakan Kongres pertama yang dihadiri utusan dari 25 organisasi Islam. Kongres tersebut dapat dikatakan sukses karena peserta lengkap, mendapatkan minat besar dari kaum muslim, dan menyangkut kepentingan agama.

Lalu, pada 2-7 Mei 1939, digelar kongres kedua yang berlokasi di Surakarta. Terdapat peserta baru yang diutus, salah satunya dari Partai Islam Indonesia asal Yogyakarta yang baru berdiri.

Pada 14-15 September 1940, diselenggarakan Konperensi MIAI. Dalam pertemuan tersebut, status sekretariat diubah menjadi dewan MIAI dengan susunan pengurus tertentu serta Anggran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga baru.

Adapun pengurus yang terdiri dari 5 orang merupakan wakil organisasi anggota, yaitu:

  • Ketua: HA Wahid Hasyim dari NU

  • Wakil Ketua: W Wondoamiseno dari PSII

  • Anggota: Dr Soekiman dari PII dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah

  • Sekretariat: KH Fakih Usman dari Muhammadiyah sebagai ketua yang merangkap bendahara dan SA. Bahreisy dari PAI sebagai penulis

Kongres ketiga dilaksanakan pada 5-8 Juli 1941 dengan nama Kongres Muslimin Indonesia. Ketika masa pendudukan Jepang tiba, nama MIAI diganti menjadi Majlis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi dengan kedudukan dipindah ke Jakarta.

Hingga akhirnya, pada 7 Septermber 1945 bentuk Masyumi diperbarui menjadi Partai Politik Islam Masyumi di Yogyakarta.

Itu dia sekilas pembahasan mengenai tokoh MIAI.(LAU)