Tokoh yang Menjalankan Politik Devide et Impera Asal Negeri Belanda

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Devide et impera merupakan suatu paham politik pecah belah atau adu domba yang diterapkan oleh penjajah Belanda di Indonesia. Tokoh yang menjalankan politik devide et impera asal negeri Belanda yaitu Christiaan Snouck Hurgonje dan Van Mook.
Dikutip dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial karya Waluyo, devide et impera artinya adalah pecah dan berkuasa. Cara penerapan strategi devide et impera adalah dengan menimbulkan perpecahan di suatu wilayah sehingga dapat lebih mudah dikuasai.
Tokoh yang Menjalankan Politik Devide et Impera Asal Negeri Belanda
Berikut penjelasan siapa saja tokoh yang menjalankan politik devide et impera asal negeri Belanda:
1. Snouck Hurgronje
Snouck Hurgronje merupakan seorang orientalis ternama kebangsaan Belanda yang paham tentang agama Islam. Ketika Perang Aceh berlangsung sejak tahun 1873 hingga 1904, Belanda sangat sulit untuk menaklukkan Kota Aceh.
Belanda akhirnya mencoba menggunakan taktik devide et impera atau politik adu domba dengan mengirimkan Snouck Hurgronje.
Alasan Belanda mengirim Snouck Hurgronje ke Aceh karena dipandang sebagai orang yang tepat untuk terjun ke tengah masyarakat Aceh dan diberi tugas memecahkan berbagai halangan yang dihadapi Belanda dalam penaklukan wilayah Aceh.
Terlebih, Snouck Hurgronje memiliki pengalaman bersosialisasi dengan orang Aceh selama berada di wilayah Kota Mekkah.
Pada tahun 1891, Snouck Hurgronje pun berhasil masuk ke wilayah Aceh untuk mempelajari adat-istiadat, kebudayaan, hingga ajaran Islam yang dianut masyarakat setempat.
Selama menjalankan tugasnya ini, Snouck Hurgronje menyamar menjadi seorang ulama dengan nama Abdul Gafar.
2. Van Mook
Hubertus Johannes Van Mook merupakan seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berkuasa sejak tahun 1942 hingga 1948. Di awal kepemimpinannya, Indonesia masih dikuasai oleh Jepang, sedangkan Van Mook berada di pengasingan dekat Brisbane, Australia.
Sekembalinya Van Mook ke wilayah Indonesia tanggal 1 Oktober 1945, kehadirannya membuat rakyat Indonesia marah karena sudah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Van Mook melakukan strategi devide et impera sebagai usaha mengatasi hal tersebut dengan memberi penawaran kepada Indonesia untuk membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan menjalin hubungan politik dan ekonomi bersama dengan Belanda.
Namun, taktik Van Mook tersebut tetap tidak berhasil karena rakyat Indonesia justru semakin tersulut untuk memukul mundur para penjajah yang datang.
Van Mook pun memberi respon ultimatum kepada pihak Indonesia untuk segera menarik pasukannya. Van Mook juga melakukan Agresi Militer Belanda I sejak 21 Juli hingga 5 Agustus 1947.
Demikian penjelasan tokoh yang menjalankan politik devide et impera asal negeri Belanda. (ARH)
