Tradisi Gotong Royong di Jawa Tengah yang Masih Dipegang Teguh

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tradisi gotong royong di Jawa Tengah yang masih ada hingga sekarang dan terus dilestarikan secara turun-temurun, misalnya saja tradisi Sambatan dan tradisi Mretelung. Kedua tradisi ini sangat unik dan menarik.
Simak keunikan kedua tradisi gotong royong tersebut dalam artikel ini!
Tradisi Gotong Royong di Jawa Tengah
Jawa Tengah ibu kotanya berada di Semarang. Salah satu provinsi di Indonesia ini menyimpan tradisi gotong royong yang unik dan tidak akan ditemukan di lokasi yang lain, yakni Sambatan dan Mretelung. Ini penjelasan keduanya:
1. Tradisi Sambatan
Mulyono Atmosiswartoputra dalam buku berjudul Hidup Sehari Lalu Mati, Catatan Harian Seorang Blogger menjelaskan bahwa Sambatan adalah gotong-royong membantu salah seorang warga di lingkungannya yang memerlukan bantuan, tanpa diberi upah.
Tradisi ini di Jawa Tengah masih banyak dilaksanakan, terutama di kawasan pedesaan. Sambatan sebagai wujud sikap masyarakat pedesaan yang suka bergotong royong membantu dan peduli terhadap sesama.
Gotong royong yang tercipta dapat mempererat tali silaturahmi dan persaudaraan antarmasyarakat. Sambatan dalam praktiknya banyak terjadi ketika proses pembangunan rumah, di mana warga berbondong-bondong bekerja dengan ikhlas tanpa upah.
Sedangkan pihak yang mempunyai rumah akan memberikan konsumsi untuk para warga tersebut. Tradisi gotong royong sambatan ini telah ada sejak zaman nenek moyang dahulu kala.
Bukan hanya sekedar membangun rumah, namun juga panen, pembangunan masjid, pos ronda, dan masih banyak yang lainnya.
2. Tradisi Mretelung
Tradisi Mretelung adalah tradisi gotong royong yang masih lestari hingga sekarang. Prosesi ini banyak dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Selaganggeng, Kecamatan Mrebet, Purbalingga, Jawa Tengah.
Pelaksanaan Mretelung berlangsung selama 1-2 hari, bergantung dari luasnya lahan yang dipanen. Mretelung dilaksanakan dengan mencabut kacang dari tanah, mreteli biji kacang dari akar, sampai mengumpulkan hasil panen.
Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan secara gotong royong atau bersama-sama dengan tidak meminta bayaran. Tradisi ini dilaksanakan bergiliran di lokasi ladang anggota dari Mretelung tersebut.
Jika ada 10 anggota Mretelung, maka berganti-gantian para Mretelung akan panen dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Meski mereka tetap melakukan hal tersebut dengan suka rela, namun mereka akan mendapatkan suatu imbalan yang disebut “bawon”.
Demikianlah penjelasan tentang tradisi gotong royong di Jawa tengah yang unik dan masih ada hingga sekarang. (eK)
