Tradisi Hajat Laut: Asal-usul dan Rangkaian Kegiatannya

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak lama, tradisi hajat laut sudah dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar pantai. Hal ini karena masyarakat mengharapkan keseimbangan antara dunya lelembut dengan dunya babadag.
Dikutip dari situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, dijelaskan bahwa tradisi hajat laut adalah perayaan tahunan yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Tradisi tersebut merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Allah swt., atas rezeki yang diberikan, baik dari laut maupun darat. Tradisi ini juga bertujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan di masa mendatang.
Asal-usul Tradisi Hajat Laut
Berdasarkan catatan sejarah, tradisi hajat laut juga disebut dengan nadran.
Sayangnya, sejarah tradisi nadran ini tidak bisa diketahui secara pasti kapan pertama kali dilakukan, mengingat alasan utama pelaksanaannya adalah menjaga keharmonisan antara dunya lelembut dan babadag.
Hanya saja di beberapa daerah, terdapat tokoh yang berperan penting dalam perkembangan tradisi hajat laut di daerah terkait. Contohnya saja upacara hajat laut di Pelabuhan Ratu yang diperkenalkan oleh Bapak Darji, seorang nelayan perantau dari daerah Pantura.
Bapak Darji memandang perlu untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkah dari laut dan mulai melaksanakan upacara tradisi hajat laut pada 7 April 1960, bertepatan dengan bulan Suro.
Pelaksanaannya dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan, keselarasan, kesesuaian, antara manusia dengan alam sekitar sehingga bisa memunculkan rasa aman, tentram, selamat, dan lain sebagainya.
Upacara hajat laut sendiri dilaksanakan setiap tahunnya pada bulan Muharam. Mengenai latar belakang pelaksanaannya, masing-masing daerah biasanya sedikit memiliki perbedaan.
Rangkaian Kegiatan Tradisi Hajat Laut
Meski ada kekhasan tersendiri pada pelaksanaan tradisi hajat laut di setiap daerah, tetapi secara umum rangkaian kegiatannya dibuka dengan prosesi larung sesaji. Larung Saji adalah melarung sesaji ke laut sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur
Kemudian diadakan juga pameran seni dan budaya, seperti tari-tarian dan musik gamelan, lomba adzan, pembacaan ayat suci al-qur'an, kaligrafi, dan hafalan al-qur'an.
Demikianlah penjelasan mengenai tradisi hajat laut yang merupakan salah satu kearifan lokal. Di masyarakat pesisir pantai, tradisi ini telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat setempat.
Baca juga: Tradisi Cuci Negeri Soya dan Tujuannya
