Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa yang Telah Ada Sejak Dahulu
27 Maret 2025 19:35 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Tradisi Lebaran ketupat di Jawa sudah tidak asing lagi didengar. Tradisi ini biasanya dilakukan agar keluarga saling mengunjungi dan menikmati hidangan ketupat bersama dengan opor ayam, sambal goreng, dan lauk lainnya.
ADVERTISEMENT
Mengutip Buku Indonesia Punya Cerita, Yusuf & Toet, (2012: 51), Ketupat adalah hidangan khas hari raya, terbuat dari beras yang dibungkus dengan janur (daun kelapa) dengan bentuk khusus.
Tradisi Lebaran Ketupat di Jawa
Secara sejarah, tradisi Lebaran ketupat di Jawa berasal dari upaya Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam, mengingat pada masa lalu, orang Jawa sering menggunakan simbol-simbol tertentu.
H.J. de Graff menyebutkan bahwa ketupat adalah simbol perayaan hari raya Islam pada masa Demak, di bawah pimpinan Raden Patah. Ia berpendapat bahwa janur ketupat menggambarkan budaya pesisir yang kaya akan pohon kelapa.
Sementara, warna kuning pada janur dimaknai oleh de Graff sebagai upaya masyarakat pesisir Jawa membedakan warna hijau dari Timur Tengah dan merah dari Asia Timur. Para Walisongo memanfaatkan pendekatan ini untuk menarik perhatian masyarakat.
ADVERTISEMENT
Dalam bahasa Jawa, ketupat berarti "Kupat" atau "Ngaku Lepat" (mengakui kesalahan). Ini mencerminkan bahwa orang yang datang diharapkan untuk saling mengakui kesalahan dan memaafkan satu sama lain.
Lebaran Ketupat biasanya dirayakan seminggu setelah Idul Fitri. Meskipun tradisi ini telah menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Malaysia, hal ini tidak menutup fakta bahwa Lebaran Ketupat tetap menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Bentuk Ketupat
Ketupat memiliki dua bentuk, yakni segi empat dan segi lima. Bentuk segi empat melambangkan prinsip kiblat papat lima pancer, yang mengandung makna bahwa ke mana pun manusia pergi, mereka akan selalu kembali kepada Allah.
Sementara itu, ketupat berbentuk segi lima melambangkan barang limo rak keno ucul (ada lima hal yang tidak boleh terlewatkan), yang merujuk pada lima waktu salat, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.
ADVERTISEMENT
Kiblat papat lima pancer juga dapat diartikan sebagai empat jenis nafsu manusia, yaitu amarah (nafsu emosional), aluamah (nafsu untuk memuaskan rasa lapar), supiah (nafsu memiliki sesuatu yang indah), dan muthamainnah (nafsu untuk memaksa diri).
Demikianlah tradisi Lebaran Ketupat di Jawa. Di beberapa daerah, perayaan Lebaran Ketupat sering kali diwarnai dengan kegiatan budaya, seperti pertunjukan seni dan perlombaan. (Nab)