Konten dari Pengguna

Tujuan Tanam Paksa pada Masa Penjajahan dan Sejarahnya

Sejarah dan Sosial

Sejarah dan Sosial

Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tanam paksa pada penjajahan. Sumber foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanam paksa pada penjajahan. Sumber foto: Unsplash

Tujuan tanam paksa pada masa penjajahan dipercayai adalah untuk menguntungkan pihak Belanda, yang saat itu sedang mengalami krisis ekonomi dan membuat kas negara kosong, akibat Perang Jawa.

Namun ternyata, masih ada sejumlah tujuan utama yang melatarbelakangi sistem tanam paksa pada masa penjajahan. Apa saja itu? Untuk penjelasan lengkapnya, simak di bawah ini.

Sejarah dan Tujuan Tanam Paksa pada Masa Penjajahan

Ilustrasi tanam paksa. Sumber foto: Unsplash

Dalam sejarah Indonesia, sistem tanam paksa atau yang dikenal sebagai Cultuurstelsel, menjadi salah satu peristiwa kelam. Sebab, sistem ini kerap menyiksa rakyat, hingga menimbulkan korban.

Dikutip Serba-Serbi Tanam Paksa milik Zulkarnain 1, sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibandingkan sistem monopoli VOC. Pasalnya, tanam paksa ini berhasil memberikan sumbangan besar untuk modal kolonialisme Hindia Belanda.

Sistem tanam paksa sendiri memiliki sejumlah tujuan yang merugikan rakyat, hingga menuai kritik keras dari berbagai kalangan. Bahkan, tidak ada sedikit pun keuntungan yang diterima oleh rakyat saat itu.

Tujuan tanam paksa atau Cultuurstelsel pada masa penjajahan Belanda adalah:

  • Mengisi kembali kas negara Belanda yang telah habis karena pengeluaran negara sangat banyak, terutama saat Perang Jawa.

  • Membantu Belanda untuk menyediakan dana pembayaran hutang yang sangat besar akibat peperangan.

  • Memberi suntikan dana untuk membiayai peperangan di Eropa dan Indonesia

  • Demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Praktik Sistem Tanam Paksa

Belanda memang berhasil meraup keuntungan dalam jumlah besar. Namun, hal ini justru berbanding terbalik dengan rakyat Indonesia yang mengalami berbagai penyelewengan kekuasaan, di antaranya:

  • Tanah yang wajib diserahkan rakyat melebihi ketentuan yang telah ditetapkan, yakni lebih dari 20%.

  • Rakyat yang menggunakan tanah untuk menanam wajib membayar pajak, di mana hal ini selalu merugikan masyarakat

  • Rakyat yang tidak memiliki tanah garapan harus bekerja di pabrik atau perkebunan milik pemerintah kolonial selama lebih dari 75 hari tanpa digaji.

  • Kelebihan hasil tanam dari jumlah pajak tidak akan dikembalikan oleh petani.

  • Kerugian akibat gagal panen ditanggung oleh petani, yang mengakibatkan kerugian petani meningkat pesat.

Jika dilihat dari tujuan dan praktiknya, sistem tanam paksa memang tidak memberikan keuntungan bagi rakyat Indonesia. Sebaliknya, Belanda justru meraup keuntungan sebanyak-banyaknya di atas penderitaan masyarakat kala itu. (RN)