Konten dari Pengguna

Debat Tanpa Arah: Hilangnya Etika dalam Komunikasi Publik

Ridho Hakim

Ridho Hakim

Public Speaking & Communication Enthusiast Pamulang University Communication Science

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ridho Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi / Chat GPT Generated
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi / Chat GPT Generated

Ada satu pemandangan yang semakin sering kita lihat di layar televisi, orang-orang berbicara bersamaan, suara meninggi, argumen saling bertabrakan, dan dalam hitungan menit, diskusi berubah menjadi ketegangan. Kita menyebutnya “debat”, tetapi yang terjadi sering kali bukan pertukaran gagasan, melainkan pertarungan ego. Menariknya, semakin panas perdebatan, semakin besar perhatian yang diberikan publik. Seolah-olah, dalam ruang komunikasi hari ini, emosi lebih mudah didengar daripada logika. Di titik inilah muncul pertanyaan penting, apakah kita masih benar-benar berdiskusi, atau sekadar saling bereaksi tanpa memahami?

Fenomena ini menjadi semakin jelas ketika kita melihat berbagai program debat di televisi nasional. Yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan sering kali berubah menjadi panggung konfrontasi. Salah satu contoh yang sempat ramai diperbincangkan adalah perdebatan antara Rocky Gerung dan Silfester Matutina. Alih-alih memperdalam isu yang dibahas, diskusi justru dipenuhi interupsi, nada tinggi, dan serangan personal. Dalam beberapa momen, situasinya bahkan tampak hampir lepas kendali.

Kasus serupa juga terlihat dalam program “Rakyat Bersuara”, ketika Permadi Arya terlibat debat panas dengan narasumber lain. Alih-alih menjelaskan posisi masing-masing secara jernih, percakapan berubah menjadi saling serang. Fokus berpindah dari isu ke individu. Dan ketika itu terjadi, substansi diskusi praktis hilang.

Fenomena ini bukan kebetulan. Ia mencerminkan perubahan cara kita memandang debat itu sendiri. Dalam banyak situasi, debat tidak lagi dipahami sebagai proses intelektual, melainkan sebagai pertunjukan. Semakin panas, semakin menarik. Semakin emosional, semakin banyak perhatian.

Media, dalam hal ini, tidak sepenuhnya netral. Format program sering kali dirancang untuk menciptakan ketegangan. Perbedaan pendapat ditempatkan dalam posisi yang saling berlawanan secara tajam. Waktu yang terbatas membuat peserta tidak sempat menjelaskan secara utuh. Dalam kondisi seperti ini, yang muncul bukan dialog, melainkan benturan.

Namun, persoalannya tidak berhenti pada media. Ada faktor lain yang lebih mendasar, yaitu cara kita berpikir. Kita hidup di era di mana informasi sangat mudah diakses, tetapi kemampuan untuk mengolah informasi tidak selalu berkembang secepat itu. Banyak orang terbiasa menyampaikan opini, tetapi tidak terbiasa membangun argumen. Ketika dihadapkan pada pandangan yang berbeda, respons yang muncul sering kali bersifat defensif.

Struktur Berpikir dalam Argumentasi: Fondasi yang Sering Diabaikan

Salah satu akar masalah dalam perdebatan yang tidak sehat adalah lemahnya struktur berpikir. Banyak orang berbicara panjang lebar, tetapi tidak benar-benar menyampaikan argumen yang utuh. Dalam kajian komunikasi dan logika, sebuah argumentasi yang baik setidaknya terdiri dari tiga elemen utama:

1. Klaim (claim)

Klaim adalah inti dari pendapat yang disampaikan. Ia harus jelas, spesifik, dan tidak ambigu. Tanpa klaim yang tegas, diskusi akan kehilangan fokus.

2. Alasan (reasoning)

Alasan menjelaskan mengapa klaim tersebut layak dipercaya. Di sinilah logika bekerja. Argumentasi tanpa alasan hanyalah opini.

3. Bukti (evidence)

Bukti berfungsi memperkuat klaim dan alasan. Ia bisa berupa data, penelitian, fakta empiris, atau contoh konkret.

Sayangnya, dalam banyak perdebatan publik, ketiga unsur ini jarang hadir secara utuh. Yang muncul justru potongan-potongan opini yang tidak terhubung, atau bahkan sekadar reaksi emosional terhadap pernyataan lawan. Etika dalam berdebat sering disalahartikan sebagai sekadar “tidak kasar”. Padahal, etika berdebat jauh lebih dalam dari itu. Ia menyangkut cara kita memperlakukan ide, lawan bicara, dan bahkan kebenaran itu sendiri.

Mengembalikan etika dalam debat berarti mengembalikan fungsi komunikasi itu sendiri. Ia bukan lagi soal siapa yang paling dominan, tetapi siapa yang paling mampu menjelaskan dengan jernih. Bukan siapa yang paling keras, tetapi siapa yang paling masuk akal.

Peran individu menjadi penting di sini. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar berbicara, tetapi juga berpikir sebelum berbicara. Menguji argumen sendiri sebelum mengkritik orang lain. Dan yang tidak kalah penting, menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus berakhir dengan konflik.

Etika dalam berdebat bukanlah batasan, melainkan fondasi. Ia tidak membatasi kebebasan berbicara, tetapi justru memungkinkan kebebasan itu digunakan secara bermakna. Kita mungkin tidak selalu sepakat. Perbedaan adalah bagian dari kehidupan sosial. Namun, cara kita menyikapi perbedaan itulah yang menentukan kualitas komunikasi kita.

Dampak Debat Publik yang tidak Sehat Dipertontonkan

Ketika debat di ruang publik terutama di televisi dan media sosial dipenuhi oleh emosi, interupsi, dan serangan personal, masyarakat perlahan menjadikannya sebagai “standar baru” dalam berkomunikasi. Apa yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan berubah menjadi tontonan konflik. Tanpa disadari, pola ini kemudian ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Orang menjadi lebih mudah terpancing, lebih cepat menyela, dan lebih fokus pada siapa yang salah daripada apa yang benar.

Dampak yang paling terasa adalah meningkatnya polarisasi sosial. Ketika debat tidak lagi membuka ruang dialog, tetapi justru mempertegas perbedaan, masyarakat cenderung terbelah ke dalam kelompok-kelompok yang saling menguatkan pandangannya sendiri. Setiap pihak merasa paling benar, sementara pihak lain dianggap keliru atau bahkan tidak layak didengar. Dalam kondisi seperti ini, ruang tengah yang seharusnya menjadi tempat kompromi perlahan menghilang.

Lebih jauh lagi, dampak yang sering luput diperhatikan adalah menurunnya kualitas berpikir kritis masyarakat. Ketika debat lebih menonjolkan drama daripada substansi, perhatian publik ikut bergeser. Orang lebih mudah mengingat momen emosional daripada isi argumen. Akibatnya, isu-isu penting tidak lagi dibahas secara mendalam, melainkan hanya dipahami secara dangkal.

Dalam konteks yang lebih luas, debat publik yang tidak sehat dapat menghambat proses demokrasi itu sendiri. Demokrasi membutuhkan ruang diskusi yang rasional, terbuka, dan saling menghargai. Jika ruang tersebut dipenuhi oleh konflik tanpa arah, maka proses pengambilan keputusan publik menjadi kurang berkualitas.

Pada akhirnya, dampak terbesar dari debat yang tidak sehat adalah hilangnya fungsi komunikasi sebagai jembatan sosial. Komunikasi seharusnya mendekatkan, tetapi dalam kondisi ini justru menjauhkan. Ia tidak lagi menjadi alat untuk memahami, melainkan alat untuk mempertahankan posisi.

Dan ketika masyarakat lebih terbiasa untuk bereaksi daripada memahami, maka yang hilang bukan hanya kualitas debat, tetapi juga kualitas hubungan sosial itu sendiri.