Satu Percikan, Banyak Api: Kenaikan Harga Gas Membakar Ekonomi Indonesia

PR & Media. Independent Analyst.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sekarsari Sugihartono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika harga bahan bakar naik di Indonesia, dampaknya tidak pernah berhenti di pompa bensin. Dampaknya menyebar, diam-diam tetapi cepat, melalui rantai pasokan, lantai pabrik, aplikasi pengiriman, dan meja dapur. Lonjakan biaya energi baru-baru ini sekali lagi menunjukkan betapa dalamnya bahan bakar fosil terjalin dalam struktur ekonomi Indonesia.
Domino pertama yang jatuh seringkali adalah industri plastik. Petrokimia yang merupakan bahan baku untuk plastik, secara langsung berasal dari minyak dan gas. Ketika harga gas melonjak, biaya produksi untuk kemasan plastik, wadah, dan komponen industri meningkat hampir seketika. Bagi produsen plastik, biaya input yang lebih tinggi secara langsung diterjemahkan menjadi barang yang lebih mahal di rak toko, mulai dari air minum kemasan hingga kemasan makanan.
Sektor Transportasi Tertekan
Kemudian, dampaknya terasa hingga ke sektor transportasi. Kenaikan biaya energi dengan cepat meluas ke biaya transportasi dan pengeluaran rumah tangga, menurut lembaga think tank energi bersih Transisi Bersih. Hal ini paling terlihat di sektor layanan transportasi daring. Kenaikan harga bahan bakar sebesar 30 persen mendorong ratusan pengemudi Gojek dan Grab untuk melakukan protes di seluruh Indonesia, karena pendapatan bersih mereka terkikis drastis.
Jika sebelumnya biaya pengisian bahan bakar hanya Rp 20.000, sekarang bisa mencapai Rp 35.000, dan pengemudi terkadang mengisi bahan bakar dua kali per shift, sehingga margin keuntungan sangat tipis. Penyesuaian tarif dari platform hampir tidak mengimbangi kenaikan harga, hanya berupa kenaikan kecil per kilometer.
Sektor penerbangan pun tidak luput dari dampaknya. Lonjakan harga bahan bakar jet domestik sekitar 70%, yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz sehingga mendorong pemerintah untuk menaikkan batas biaya tambahan bahan bakar dari 10% menjadi 38% untuk penerbangan domestik, dengan Garuda Indonesia menaikkan harga tiket hingga 13% sebagai akibatnya.
Reaksi Berantai Lintas Sektor
Dampak berantai tidak berhenti di situ. Biaya logistik yang lebih tinggi mendorong kenaikan harga makanan, obat-obatan, dan barang manufaktur. Rancangan anggaran negara Indonesia tahun 2026 telah mengalokasikan $12,4 miliar untuk subsidi energi, naik dari $10,9 miliar pada tahun sebelumnya karena pemerintah berupaya melindungi konsumen dari dampak penuhnya. Namun, ketergantungan struktural Indonesia pada bahan bakar fosil di sektor transportasi, logistik, dan industri berarti setiap guncangan harga terasa lebih dalam daripada yang sebelumnya.
Efek domino dari kenaikan harga gas bukan hanya ketidaknyamanan ekonomi, tetapi juga ujian berat bagi seluruh arsitektur ekonomi Indonesia. Sampai negara ini melakukan diversifikasi basis energinya, setiap guncangan minyak global akan terus menyulut api yang sama dalam jangka waktu yang lama.
