Kumparan Logo

She Inspires: Mengenal Seni dan Sains di Balik Bodybuilding Bersama Klaudia Mere

kumparanWOMANverified-green

ยทwaktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Jumat menjelang siang, suasana di FTL Gym, Tebet, Jakarta Selatan, tak terlalu ramai. Hanya beberapa orang bergantian melewati pintu akses menuju area latihan beban. Sesekali terdengar dentingan pelat besi dan suara alat gym yang saling beradu.

Tak lama kemudian, seorang perempuan menyambut kami dengan senyum lebar. Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga sekilas mengingatkan pada tatanan rambut aktris Zendaya yang baru-baru ini ramai di jagat maya.

Dengan riasan yang warm, kaus fitted dan legging olahraga bernuansa gelap, sulit menebak bahwa sosok yang tampil feminin itu adalah atlet bikini bodybuilding yang sudah beberapa kali naik podium kompetisi internasional.

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

"Aku biasanya latihan subuh. Memang di sini kalau pagi malah ramai. Jadi kita siang aja ya, biar enak ngobrolnya," ujarnya hangat. Sosok ini tak lain adalah Klaudia Skolastika Ayu Mere, seorang Communications Consultant di FleishmanHillard Indonesia, yang juga merupakan atlet bodybuilding di kategori bikini.

Dengan dua profesi di tangannya, setiap hari Klaudia menjalani rutinitas yang cukup padat. Sebelum sebagian besar pekerja kantoran memulai hari, ia sudah lebih dulu menghabiskan dua hingga empat jam di gym.

Lalu seperti apa perjalanan dan keseharian Klaudia? Simak selengkapnya di edisi She Inspires kali ini.

Dari Body Goals hingga Memahami Bodybuilding sebagai Seni dan Sains

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Klaudia mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi atlet bodybuilding. Ketertarikannya pada dunia kebugaran berawal dari rutinitas fitness yang ia jalani sejak 2013. Kala itu, motivasinya sederhana. Ia ingin memiliki bentuk tubuh yang lebih proporsional, terinspirasi dari perempuan-perempuan Latina yang menurutnya memiliki body goals.

Perjalanannya berubah pada 2018 ketika pelatih gym memperkenalkannya kepada atlet bikini profesional Chaya Keswani. Melihat bentuk tubuh sang atlet, Klaudia langsung membayangkan dirinya bisa mencapai fisik serupa.

"Aku pikir semudah itu punya badan seperti atlet bikini. Ternyata enggak. Butuh kerja keras, dedikasi, dan disiplin yang luar biasa," katanya.

Tahun yang sama, ia mengikuti kompetisi bodybuilding pertamanya di Bali. Hasilnya memang belum sesuai harapan karena ia harus puas pulang tanpa gelar. Namun pengalaman itu justru membuatnya semakin yakin untuk menekuni olahraga ini.

Bertahun-tahun kemudian, proses panjang tersebut membawanya meraih 3rd Place IFBB Pro League Malaysia 2024 di Kuala Lumpur dan 1st Place sekaligus Top 3 Overall IFBB Pro League Malaysia 2025 di Johor Bahru untuk kategori Bikini Class B.

Meski sama-sama berada di bawah cabang bodybuilding, kategori bikini memiliki standar yang berbeda dengan binaraga yang selama ini lebih dikenal masyarakat. Atlet untuk kategoru ini dituntut memiliki tubuh yang proporsional dengan bentuk hourglass: pinggang ramping, keseimbangan otot tubuh bagian atas dan bawah, serta garis otot yang jelas tanpa terlihat terlalu besar atau terlalu kering.

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di atas panggung, penilaian pun tidak hanya sebatas melihat massa otot. Atlet juga harus menguasai teknik berpose (posing), berjalan dengan anggun di atas high heels, menampilkan ekspresi yang percaya diri, hingga menjaga kesimetrisan bentuk tubuh.

"Makanya menurut aku bodybuilding itu art and science," ujar Klaudia.

Menurutnya, tubuh seorang atlet ibarat kanvas yang dibentuk melalui latihan beban, pengaturan nutrisi, waktu istirahat, hingga strategi latihan yang disusun secara terukur layaknya mempelajari ilmu pengetahuan eksakta alias sains. Di saat yang sama, ada unsur estetika yang membuat setiap penampilan di atas panggung menyerupai sebuah pertunjukan.

"Kalau seorang pemahat membentuk patung dari tanah liat, bodybuilder membentuk kanvasnya dari tubuhnya sendiri," kata Klaudia.

Tak heran bila kategori bikini kerap dijuluki sebagai beauty pageant-nya dunia fitness. Atlet tampil dengan bikini kompetisi, high heels, riasan wajah, rambut yang ditata, hingga aksesori yang melengkapi penampilan mereka.

Disiplin yang Dimulai Sebelum Matahari Terbit

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pemahaman bahwa bodybuilding adalah perpaduan seni dan sains juga tercermin dari rutinitas yang dijalani Klaudia setiap hari. Harinya dimulai sebelum subuh. Setelah menyiapkan sarapan dan bekal makan siang, Klaudia sudah berada di gym sekitar pukul empat pagi untuk menjalani latihan selama dua hingga empat jam.

Usai latihan, ia sarapan dengan oatmeal dan putih telur sebelum bersiap ke kantor. Alih-alih menggunakan kendaraan, Klaudia memilih berjalan kaki demi memenuhi target 13.000 langkah setiap hari. "Aku tuh dikasih target kardio sehari harus 13.000 langkah. Makanya dari tempat gym di Tebet ini, aku jalan kaki ke kantor yang ada di Kota Kasablanka, pulang pergi," jelasnya.

Menu makan siangnya pun hampir selalu sama, yaitu ayam, nasi atau ubi, dan sayuran. Begitu juga dengan makan malam, menunya ia isi dengan protein dari ayam atau ikan, dan ditambah seporsi sayur. Klaudia juga sangat disiplin dalam hal jam istirahat. Setiap hari, ia sudah harus tidur di jam 10 malam agar tubuh memiliki waktu pemulihan yang cukup.

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Menjaga pola makan menjadi tantangan tersendiri. Selama masa persiapan kompetisi yang bisa berlangsung hingga 16 minggu, hampir seluruh asupan makanannya diatur secara detail. Karbohidrat, protein, lemak, hingga air disesuaikan dengan kondisi tubuh yang terus dipantau pelatih.

"Yang susah itu menjaga pola makan. Di Indonesia makanannya enak-enak dan menggoda. Tapi kalau mau kompetisi, ya harus disiplin."

Sebelum memasuki masa persiapan, ia juga menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk tes darah. Menurutnya, setiap atlet memiliki komposisi tubuh dan metabolisme yang berbeda sehingga program nutrisi tidak bisa disamaratakan.

Sering dicibir karena berotot sampai dikira pengangguran

Female bodybuilder, Klaudia Mere. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Di balik semua proses itu, komentar negatif sesekali datang. Ada yang menyebut tubuhnya terlalu besar, ada pula yang mengira ia tidak bekerja karena menghabiskan waktu berjam-jam di gym.

Padahal, menurut Klaudia, tubuh yang dimilikinya hari ini dibangun lewat latihan intens dan gaya hidup sehat yang konsisten selama bertahun-tahun.

"Aku kadang nangis di gym, ngerasa capek, lelah. Memang sakit menjalani ini semua. Ada harga yang harus dibayar. Tapi sakitnya sepadan dengan progres yang aku capai."

Perjalanan panjang tersebut akhirnya mengubah cara pandangnya terhadap bodybuilding. Olahraga ini tak lagi ia lihat sebagai upaya membentuk tubuh, melainkan proses mengenal diri sendiri dan melatih konsistensi dalam menjalani hidup.

"Bertahun-tahun journey aku di bodybuilding, awalnya aku pikir ini cuma soal membangun otot. Ternyata enggak. Ada banyak hal yang aku pelajari. Sekarang aku merasa jadi pribadi yang lebih tenang. I found myself."