Konten dari Pengguna

China Plus One Dorong Lonjakan Investasi ke ASEAN

Shelya Alviani Irawan

Shelya Alviani Irawan

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sebelas Maret

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shelya Alviani Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

HANOI/JAKARTA—Dorongan global untuk de-risking dan ketegangan perdagangan yang berkepanjangan antara AS dan Tiongkok telah mempercepat fenomena yang dikenal sebagai strategi "China Plus One". Strategi dimana perusahaan multinasional mencari basis produksi alternatif di luar Tiongkok telah menghasilkan lonjakan signifikan dalam investasi asing langsung atau FDI ke negara-negara utama Asia Tenggara.

Foto Pribadi: Shelya Alviani Irawan
zoom-in-whitePerbesar
Foto Pribadi: Shelya Alviani Irawan

Data menunjukkan pergeseran nyata modal manufaktur. Vietnam dan Indonesia menjadi penerima manfaat utama. Pada tahun fiskal 2024, misalnya, FDI di sektor manufaktur Vietnam dilaporkan melonjak 15%, melampaui angka prapandemi. Sementara itu, Indonesia mencatatkan rekor penanaman modal asing, mencapai $45 miliar pada tahun 2024, di mana sebagian besar diarahkan pada sektor hilirisasi mineral dan energi yang terintegrasi.

"Perusahaan mencari ketahanan. Mereka tidak bisa lagi menaruh semua telur mereka di satu keranjang yaitu Tiongkok," ujar seorang analis rantai pasokan regional. Tingkat lonjakan FDI di ASEAN, khususnya di segmen elektronik dan kendaraan listrik (EV), adalah bukti bahwa strategi 'Plus One' bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bisnis.

Negara-negara ASEAN menawarkan keunggulan yang berbeda. Vietnam berhasil menarik investasi berkat perjanjian perdagangan bebasnya yang luas termasuk CPTPP dan FTA dengan Uni Eropa. Sementara Indonesia menggunakan kekayaan sumber daya alamnya sebagai daya tarik, dengan fokus pada hilirisasi nikel yang menjadikannya pusat investasi utama bagi rantai pasokan baterai dan EV global.

Namun, pergeseran ini tidak berarti Tiongkok ditinggalkan sepenuhnya. Meskipun perakitan akhir pindah ke ASEAN, sebagian besar pasokan komponen kunci, mesin presisi, dan bahan baku perantara masih didominasi oleh Tiongkok. Analis memperingatkan bahwa banyak operasi "Plus One" di ASEAN masih sangat bergantung pada impor input dari Tiongkok, yang berarti Tiongkok tetap mengendalikan jantung dari rantai pasokan regional.

Meskipun aliran modal besar, negara-negara ASEAN masih menghadapi hambatan serius. Infrastruktur logistik seperti pelabuhan, jalan tol, jaringan listrik dan kompleksitas birokrasi perizinan seringkali menjadi keluhan utama investor, terutama di Indonesia dan Filipina. Untuk memaksimalkan manfaat dari China Plus One, para ahli menyarankan bahwa pemerintah ASEAN harus memprioritaskan investasi pada infrastruktur hard dan soft untuk bersaing lebih efektif melawan efisiensi logistik Tiongkok yang mapan.