Konten dari Pengguna

Tenang di Luar, Perang di Dalam Kepala

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvia Noviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang dengan pikiran yang penuh kekhawatiran. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang dengan pikiran yang penuh kekhawatiran. Foto: Freepik

Ada satu jenis kebohongan yang hampir semua orang pernah melakukannya, dan anehnya, tidak ada yang menyebutnya bohong. Kebohongan itu bernama "saya baik-baik saja." Diucapkan dengan wajah datar, nada suara stabil, bahkan kadang disertai senyum tipis yang terlatih selama bertahun-tahun. Kita mengucapkannya pada rekan kerja yang bertanya basa-basi di lift, pada orang tua yang bertanya lewat telepon, bahkan pada pasangan yang sebenarnya cukup dekat untuk tahu kita sedang berbohong. Padahal di balik kalimat singkat itu, kepala sedang berperang sendirian pikiran saling sikut memperebutkan perhatian, kekhawatiran tentang esok hari berebut tempat dengan penyesalan tentang kemarin, dan suara-suara kecil yang terus bertanya "kenapa kamu belum cukup baik" tidak pernah benar-benar diam, hanya pandai bersembunyi di balik kesibukan sehari-hari.

Kita hidup di tengah budaya yang memuja ketenangan sebagai bukti kekuatan, dan ironisnya, dunia mengajarkan ini sejak usia sangat dini. Anak laki-laki dibesarkan dengan kalimat "jangan cengeng," anak perempuan diajari "jangan berlebihan," dan keduanya tumbuh dengan pemahaman bahwa emosi yang ditampilkan sama dengan kelemahan yang dipertontonkan. Orang yang tidak menangis di depan umum dianggap tegar. Orang yang tetap tersenyum saat dunia di sekitarnya runtuh dianggap dewasa, bahkan inspiratif. Media sosial memperparah linimasa dipenuhi wajah-wajah tenang dan kalimat motivasi, seakan kesedihan adalah aib yang harus disensor sebelum diunggah. Maka banyak dari kita belajar memakai topeng itu bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai mekanisme bertahan hidup sosial, karena tidak ada ruang aman untuk jujur bahwa di dalam kepala sedang ada kekacauan yang tidak kunjung reda.

Masalahnya, ketenangan yang dipaksakan bukan ketenangan yang sebenarnya. Ia hanya permukaan air yang tampak tenang sementara di bawahnya arus deras terus menyeret apa pun yang lewat. Coba perhatikan orang-orang di sekitarmu, yang paling rapi mengatur jadwalnya, yang paling jarang mengeluh, yang selalu jadi tempat curhat orang lai. Mereka sering kali adalah orang yang paling lelah menahan diri agar tidak meledak, karena sudah terlanjur dianggap sebagai sosok yang kuat dan tidak boleh rapuh. Yang terlihat paling santai menjalani hari, tertawa paling keras saat berkumpul, bisa jadi sedang menahan napas setiap malam agar tidak ketahuan sedang tenggelam pelan-pelan. Ketenangan semacam ini melelahkan justru karena ia membutuhkan usaha yang konstan bukan untuk menyelesaikan kekacauan di dalam, melainkan untuk terus-menerus menyembunyikannya dari pandangan orang lain.

Ironisnya, justru karena terlihat baik-baik saja, orang-orang di sekitarnya sering luput memberi perhatian, bahkan saat tanda-tanda kecil sebenarnya sudah terlihat jika saja ada yang mau melihat lebih dekat. Tidak ada yang bertanya lebih jauh kepada orang yang tampak kuat, karena dianggap tidak membutuhkan pertanyaan itu, dianggap sudah cukup tangguh untuk mengurus dirinya sendiri. Sementara perhatian justru lebih mudah mengalir kepada mereka yang secara terbuka menunjukkan kesulitannya. Ini menciptakan kesenjangan yang ganjil: semakin baik seseorang menyembunyikan kekacauannya, semakin sedikit pula kesempatan ia mendapat uluran tangan. Padahal terkadang, yang paling butuh ditanya "kamu beneran baik-baik saja?" adalah mereka yang paling jarang ditanya, justru karena terlalu pandai menyembunyikannya di balik kompetensi dan senyum yang konsisten.

Kepala yang ramai bukan tanda kelemahan, dan ini penting untuk terus diulang sampai benar-benar dipercaya. Ia tanda bahwa seseorang sedang berusaha keras memahami hidupnya sendiri. Mencerna kekecewaan yang belum sempat diproses, menimbang keputusan-keputusan besar yang konsekuensinya tidak bisa diprediksi, mengkhawatirkan masa depan yang tidak pernah benar-benar bisa dikendalikan sepenuhnya. Ribut di dalam kepala adalah bagian dari menjadi manusia yang berpikir, yang merasa, yang peduli pada banyak hal sekaligus, pekerjaan, keluarga, hubungan, mimpi yang belum tercapai, dan ketakutan yang belum punya nama. Yang berbahaya bukan keributan itu sendiri, melainkan kebiasaan menyangkalnya, memendamnya dalam-dalam, lalu berpura-pura di depan cermin bahwa ia tidak pernah ada, sampai akhirnya tubuh dan pikiran kehabisan ruang untuk menampungnya.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menjadikan ketenangan sebagai topeng wajib, dan mulai menjadikan kejujuran sebagai bentuk keberanian yang baru, keberanian yang lebih senyap dari sekadar tampil kuat, tapi jauh lebih jujur. Tidak apa-apa untuk mengatakan "sebenarnya kepalaku sedang ramai sekali hari ini" kepada sahabat yang dipercaya, kepada terapis, atau bahkan hanya kepada secarik kertas yang tidak akan menghakimi. Tidak apa-apa untuk melepas topeng itu sejenak, untuk berhenti berpura-pura tegar setiap saat, karena ketegaran yang sesungguhnya justru lahir dari keberanian mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.

Karena pada akhirnya, ketenangan sejati bukan tentang tidak adanya keributan di dalam kepala. Ketenangan sejati adalah ketika kita berdamai dengan keributan itu. Mendengarkannya tanpa takut, memahaminya tanpa terburu-buru menghakimi diri sendiri, lalu memilih untuk tetap melangkah meski perang di dalam belum sepenuhnya usai. Sebab ketenangan yang paling kuat bukanlah yang tanpa gejolak, melainkan yang tetap berjalan meski gejolak itu masih ada.