Mengunjungi Masjid Atta’Awun di Puncak Bogor

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Selvia Parwati Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah menumpuknya tugas akhir di penghujung semester 3, keluarga memutuskan untuk membawa saya melegakan pikiran sejenak dengan mengunjungi Masjid Atta’Awun di puncak Bogor yang saat itu tengah diselimuti kabut yang cukup tebal. Kami berangkat di hari Senin (19/11/2021).

Perjalanan dari kediaman kami hingga tiba di sana memakan waktu yang cukup lama. Sekitar 4 jam kemudian mobil silver yang kami tumpangi akhirnya sampai di tujuan. Jalur untuk ke puncak memang tidak jauh dari kemacetan. Kami pun juga mencicipi macetnya Kota Hujan saat itu. Namun, dengan sejuknya udara dan pepohonan yang asri, tidaklah mengapa bila berlama-lama.
Karena kondisinya masih pandemi, beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya mulai dari bakso, mi ayam, soto ayam. soto daging; tidaklah seramai biasanya. Hanya beberapa tenda yang terpasang dengan gerobak dan penjual yang siap melayani pembeli sedangkan beberapa lainnya hanya terpasang tenda kosong dengan kursi dan meja yang jungkir balik dan gerobak yang ditutupi terpal.
Sesampainya di Masjid Atta’Awun, kami langsung bergegas menunaikan salat Asar. Parkiran dalam masjid ternyata telah terisi penuh dengan jajaran mobil dan motor, mau tidak mau kami harus parkir di luar masjid. Akan tetapi, tidak perlu khawatir, petugas yang berjaga sudah siap dengan cukup membayar sebesar Rp15.000,00.
Sebelum masuk masjid, kami harus menaiki beberapa anak tangga yang cukup banyak. Sesampainya di halaman masjid, kotak dengan keramik mengkilap yang berisi air guna membersihkan kaki pengunjung, harus kami nikmati. Dinginnya air di puncak Bogor langsung terasa pada kaki-kaki yang perlahan mulai pucat dan keriput.
Setelah menunaikan salat Asar, kami memutuskan untuk mengabadikan momen bersama dengan berfoto dan menangkap pemandangan-pemandangan yang mengagumkan, kemudian, kami melanjutkan kegiatan dengan makan bersama. Kami makan dari bekal yang sudah kami siapkan dari rumah. Saya dan mama mengambil satu tas besar berwarna ungu tua berisi bekal makanan dari bagasi mobil. Kami makan di halaman masjid bersama beberapa pengunjung lainnya. Ada yang asyik menyantap nasi dan ayam goreng, menyeduh mi instan, menyeruput wedang jahe untuk menghangatkan badan, dsb.
Pada pukul 17.30 WIB kami selesai makan dan berbincang. Suasana di halaman masjid sudah mulai gelap. Kabut-kabut pun kian menebal diiringi angin yang berembus dengan membawa hawa dingin yang cukup menusuk. Tidak lama setelah itu, suara azan Magrib berkumandang. Kami bergegas untuk menunaikan salat Magrib bersama pengunjung lainnya yang juga berbondong-bondong.
Setelah menunaikan salat Magrib, jarum jam menunjukkan pukul 18.35 WIB. Kami bergegas untuk kembali ke rumah. Sebelumnya, kami mampir ke tempat oleh-oleh untuk membeli beberapa macam keripik, tapai, dan gulali yang saya sukai. Setelah selesai menjinjing beberapa oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan di tengah rintik hujan yang mengguyur Kota Bogor pada Jumat malam. Pikiran yang kembali segar dan tenang akhirnya saya dapatkan sepulang dari Kota Hujan yang memberi kesejukan dan nuansa yang penuh kedamaian.
